Operasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dilaporkan menghadapi tekanan di lapangan, menyusul hilangnya sejumlah pesawat tanpa awak jenis MQ-9 Reaper dalam beberapa pekan terakhir.
Media Amerika, CBS News, pada Rabu (1/4/2026) melaporkan bahwa sedikitnya 16 unit drone milik militer AS tidak kembali dari misi sejak dimulainya operasi gabungan dengan Israel pada akhir Februari lalu. Informasi tersebut diperoleh dari dua pejabat pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya.
Kehilangan ini menjadi indikasi meningkatnya risiko dalam operasi udara yang berlangsung di tengah eskalasi ketegangan dengan Iran. Meski belum ada penjelasan rinci terkait seluruh insiden, sebagian di antaranya diduga terkait dengan kemampuan pertahanan udara Iran yang masih aktif.
Sebelumnya, media pemerintah Iran mengklaim bahwa pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) berhasil menjatuhkan salah satu drone milik AS di wilayah Isfahan. Klaim tersebut belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh pihak Washington.
Drone MQ-9 Reaper merupakan salah satu andalan militer AS dalam operasi pengawasan dan pengintaian. Pesawat tanpa awak ini mampu terbang dalam durasi panjang serta dilengkapi teknologi sensor canggih. Dalam beberapa misi, drone tersebut juga dapat dipersenjatai untuk melakukan serangan presisi.
Dari sisi nilai, satu unit MQ-9 Reaper diperkirakan mencapai puluhan juta dolar AS, menjadikannya salah satu aset penting dalam operasi militer modern.
Di tengah laporan kehilangan tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa kemampuan pertahanan udara Iran telah melemah signifikan akibat operasi militer yang berlangsung selama beberapa waktu terakhir.
Washington – Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan situasi yang masih dinamis. Kehilangan sejumlah drone menjadi sinyal bahwa operasi militer di kawasan tersebut tetap menghadapi tantangan serius, sekaligus mencerminkan ketatnya persaingan teknologi pertahanan antara kedua pihak.
Pengamat menilai, eskalasi ini berpotensi memperpanjang konflik dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama jika kedua pihak terus mempertahankan intensitas operasi militer dalam waktu dekat.
Sumber: Xinhua







