Lumineerdaily.com – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dijadwalkan bertolak ke Turki pada Rabu untuk melanjutkan upaya diplomasi internasional menghentikan invasi Rusia. Kunjungan ini difokuskan pada penguatan peran Amerika Serikat dalam negosiasi damai, menyusul kegagalan beberapa putaran pembicaraan di Istanbul tahun ini.
Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada AFP bahwa pertemuan Zelensky dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertujuan “mengajak kembali Amerika” ke meja perundingan. Kyiv berharap keterlibatan Washington dapat menekan Moskow agar mau berunding, termasuk melalui opsi sanksi tambahan. Steve Witkoff, utusan AS, diperkirakan turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Sementara itu, Kremlin menyatakan tidak akan mengirim perwakilan ke Ankara, namun menegaskan tetap terbuka untuk dialog menyelesaikan konflik. Di Washington, legislator sedang membahas rancangan undang-undang yang memperketat sanksi terhadap Rusia, termasuk kemungkinan mengenakan tarif bagi negara yang membeli minyak dan gas Moskow. Presiden Donald Trump menyatakan dukungan terhadap langkah tersebut, sambil menekankan keinginannya memanfaatkan hubungan pribadi dengan Vladimir Putin untuk menyelesaikan konflik, meski sejauh ini belum ada hasil konkret.
Selain membahas sanksi, Zelensky menekankan pentingnya pertukaran tawanan perang (POW). Kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov, menyebut pihaknya menargetkan pembebasan sekitar 1.200 warga Ukraina melalui mekanisme yang sempat berjalan dari Mei hingga Juli, namun melambat beberapa bulan terakhir.
Kunjungan ke Turki juga menjadi bagian dari tur Eropa Zelensky untuk mengamankan dukungan militer dan energi. Sebelumnya, Ukraina dan Prancis menandatangani kesepakatan pengadaan hingga 100 jet tempur Rafale, termasuk drone dan perangkat militer lain. Moskow mengecam perjanjian itu sebagai tindakan yang “memicu sentimen militeristik dan pro-perang.” Zelensky juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez pada Selasa.
Situasi di medan perang semakin memburuk menjelang musim dingin. Rusia melancarkan serangan pengeboman besar terhadap fasilitas gas Ukraina, menghentikan sekitar 60 persen produksi bahan bakar pemanas. Serangan balasan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia juga terus berlangsung.
Di wilayah Donetsk yang diduduki Rusia, lebih dari separuh rumah dan bisnis kehilangan listrik setelah dua pembangkit terserang. Pada Selasa, serangan Rusia menewaskan seorang remaja di Dnipro, sekaligus merusak infrastruktur rel kereta dan gedung televisi publik. Kyiv menegaskan Moskow belum menunjukkan itikad baik menghentikan perang, dengan terus mengajukan tuntutan yang dianggap Ukraina sebagai upaya menekan penyerahan wilayah tambahan.







