Tulungagung – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tulungagung mulai memasuki fase evaluasi serius. Dari total 116 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi, sebanyak delapan dapur dihentikan sementara akibat sejumlah persoalan di lapangan.
Langkah penghentian ini menunjukkan adanya pengetatan standar dalam pelaksanaan program, khususnya terkait keamanan pangan dan kelayakan operasional dapur.
Koordinator wilayah Badan Gizi Nasional Tulungagung, Sebrina Mahardika, menjelaskan bahwa penghentian sementara dilakukan setelah ditemukan beberapa kendala mendasar.
“Dari total 116 SPPG yang berjalan, ada delapan yang saat ini disetop sementara. Penyebabnya beragam, mulai dari tidak adanya pengawas gizi, fasilitas yang belum memenuhi standar, hingga adanya kasus yang menjadi perhatian,” ujarnya.
Ia merinci, satu SPPG dihentikan karena tidak memiliki tenaga pengawas gizi, empat lainnya terkait kasus menonjol yang masih dalam penanganan, serta tiga SPPG karena fasilitas yang dinilai belum memadai.
Sebagian dari dapur tersebut juga berkaitan dengan laporan gangguan kesehatan yang sempat terjadi di lingkungan sekolah beberapa waktu lalu. Namun hingga kini, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan masih belum dipublikasikan secara rinci dan telah dilaporkan ke tingkat pusat.
Selama masa penghentian, pengelola diwajibkan melakukan perbaikan menyeluruh sesuai rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tulungagung. Perbaikan mencakup aspek kebersihan, kelengkapan sarana prasarana, hingga sistem pengawasan gizi.
“Kami akan melakukan monitoring dan evaluasi berkala. Jika sudah memenuhi standar, operasional bisa dibuka kembali,” kata Sebrina.
Selain persoalan teknis, evaluasi juga menyentuh kualitas menu makanan yang sebelumnya sempat dikeluhkan. Perubahan arah kebijakan kini mulai difokuskan pada peningkatan mutu layanan, tidak lagi sekadar mengejar jumlah dapur yang beroperasi.
Tahun ini, perhatian diarahkan pada tiga aspek utama, yakni kualitas menu, kesiapan sarana prasarana, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di setiap SPPG.
Langkah evaluasi ini diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan program MBG di Tulungagung agar berjalan lebih aman, terstandar, dan berkelanjutan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan gizi bagi pelajar.
(gun).







