Tulungagung – Dinas Kesehatan Tulungagung memastikan belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) meski temuan kasus campak mulai teridentifikasi. Hingga akhir Maret 2026, tercatat puluhan anak masuk kategori suspek, dengan satu kasus terkonfirmasi melalui uji laboratorium awal.
Kepala Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, menyampaikan jumlah suspek campak mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Dari temuan awal sebelum masa libur Lebaran, angka tersebut bertambah menjadi 44 anak yang menunjukkan gejala mengarah ke campak.
Seluruh kasus tersebut telah ditindaklanjuti dengan pengambilan spesimen untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan dilakukan melalui sampel darah dan sebagian melalui sampel lain yang dikirim ke laboratorium rujukan di Surabaya.
Hasil sementara menunjukkan satu anak dinyatakan positif campak. Namun, Dinkes menegaskan hasil tersebut masih menunggu konfirmasi lanjutan dari pemeriksaan serum darah yang menjadi acuan utama dalam penegakan diagnosis.
“Pemeriksaan laboratorium masih berproses. Untuk penetapan pasti, kami tetap mengacu pada hasil spesimen darah,” kata Desi.
Langkah cepat langsung dilakukan setelah temuan tersebut. Tim kesehatan diterjunkan untuk melakukan pelacakan (tracing) di lingkungan tempat tinggal dan sekolah anak yang terindikasi positif. Hasil penelusuran sementara belum menunjukkan adanya penyebaran lanjutan.
Meski demikian, Dinkes menegaskan bahwa kondisi saat ini belum memenuhi kriteria untuk penetapan KLB. Penentuan status tersebut tidak hanya didasarkan pada jumlah kasus, tetapi juga mempertimbangkan faktor penyebaran dan keputusan pemerintah daerah.
Di tingkat provinsi, beberapa wilayah telah lebih dulu menetapkan status KLB dan menjalankan respons khusus. Sementara Tulungagung masih berada pada tahap pengendalian dan pemantauan intensif.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes kini fokus pada pendataan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap. Program imunisasi kejar dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat guna menekan potensi penyebaran.
Pihak kesehatan menegaskan bahwa imunisasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah campak, terutama pada kelompok usia balita yang rentan.
Dengan peningkatan jumlah suspek, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci. Pemerintah daerah meminta orang tua segera memeriksakan anak jika muncul gejala seperti demam dan ruam, serta memastikan status imunisasi terpenuhi.
Situasi masih terkendali, namun tren kenaikan kasus menjadi peringatan dini—bahwa pengawasan dan pencegahan tidak boleh lengah.
(gun).







