Tulungagung, Lumineerdaily.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tulungagung tidak lepas dari sorotan masyarakat. Hingga 10 Maret 2026, Satuan Tugas (Satgas) MBG mencatat telah menerima puluhan aduan, dengan keluhan terbanyak terkait kualitas dan variasi menu yang disajikan.
Data yang dihimpun menunjukkan, dari total 67 laporan yang masuk, sekitar 30 aduan atau 46,29 persen berkaitan langsung dengan menu makanan. Keluhan tersebut mencakup rasa, penyajian, hingga variasi yang dinilai kurang beragam.
Ketua Satgas MBG Tulungagung, Bagus Kuncoro, menyampaikan bahwa saluran pengaduan masyarakat telah dibuka sejak awal pembentukan satgas. Melalui hotline tersebut, masyarakat dapat langsung melaporkan temuan di lapangan.
“Saluran aduan ini kami siapkan agar setiap laporan bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya, Rabu (08/04/2026).
Selain persoalan menu, aduan lain juga muncul terkait aspek keamanan pangan. Kategori ini mencatat 21 laporan atau 29,63 persen, yang menunjukkan perhatian masyarakat terhadap kualitas bahan maupun proses pengolahan makanan.
Keluhan berikutnya berkaitan dengan distribusi makanan yang mencapai 9 laporan atau 12,96 persen. Sementara itu, persoalan sasaran penerima tercatat 5 laporan atau 7,42 persen.
Adapun aduan terkait kebersihan dan kebisingan menjadi yang paling sedikit, masing-masing hanya 1 laporan atau 1,85 persen.
Meski jumlah aduan relatif tidak besar dibanding cakupan program, pola keluhan yang muncul menunjukkan persoalan tidak hanya terjadi di satu titik. Variasi menu yang berulang dan kualitas yang tidak konsisten menjadi catatan yang paling sering disampaikan masyarakat.
Satgas MBG menyebut sistem penanganan aduan dilakukan lintas instansi agar respons bisa lebih cepat. Namun di lapangan, persoalan yang sama masih terus muncul dalam laporan yang berbeda.
Kondisi ini menandakan bahwa persoalan kualitas menu belum sepenuhnya teratasi, meski jalur pengaduan sudah tersedia. Program yang menyasar kebutuhan dasar ini justru diuji pada hal paling mendasar, yakni kelayakan makanan yang diterima.
Di tengah upaya memperluas jangkauan program, keluhan soal menu menjadi indikator penting yang tidak bisa diabaikan. Sebab, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi juga dari kualitas makanan yang benar-benar dikonsumsi.
Dengan masih dominannya aduan di aspek tersebut, perbaikan di tingkat dapur dan pengawasan kualitas menjadi pekerjaan yang belum selesai.
(gun)







