Tulungagung – Aparat kepolisian bersama tim penjinak bom dari Gegana Brimob Polda Jawa Timur melakukan pemusnahan bahan peledak hasil sitaan selama bulan Ramadan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan Gunung Cemenung, Kecamatan Rejotangan, dengan pengamanan ketat untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Barang yang dimusnahkan terdiri dari ratusan petasan berbagai ukuran serta puluhan kilogram bubuk mesiu yang sebelumnya diamankan dari sejumlah wilayah di Tulungagung. Seluruhnya merupakan hasil operasi yang dilakukan jajaran Polsek selama kurang lebih satu bulan terakhir.
Proses pemusnahan dilakukan secara hati-hati. Petugas terlebih dahulu memisahkan isi bahan peledak dari rangka petasan, kemudian menghancurkannya dengan metode khusus agar tidak menimbulkan ledakan besar. Area sekitar lokasi juga disterilkan, warga dilarang mendekat demi keselamatan bersama.
Kepolisian menyebut, sebagian besar bahan peledak tersebut berasal dari perakitan mandiri. Para pelaku mendapatkan bahan baku secara terpisah melalui pembelian daring, lalu meraciknya sendiri dengan panduan yang diperoleh dari internet dan media sosial.
Fenomena ini menjadi perhatian serius, karena tidak hanya melibatkan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Untuk pelaku yang masih di bawah umur, pihak kepolisian memilih pendekatan pembinaan dan menyerahkannya kembali kepada orang tua. Sementara itu, pelaku dewasa diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Meski tidak ada laporan korban jiwa di wilayah Tulungagung tahun ini, polisi tetap mengingatkan bahwa petasan berdaya ledak tinggi sangat berbahaya. Di sejumlah daerah lain, kasus serupa bahkan menimbulkan korban luka hingga meninggal dunia.
Imbauan pun kembali disampaikan kepada masyarakat agar tidak memproduksi maupun memperjualbelikan petasan secara ilegal. Selain melanggar aturan, aktivitas tersebut juga berisiko tinggi terhadap keselamatan diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Dengan adanya pemusnahan ini, aparat berharap situasi tetap kondusif, terutama di momen Lebaran. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama, sekaligus pengingat bahwa tradisi tidak boleh mengabaikan risiko yang bisa berakibat fatal.
(gun).







