Hong Kong – Kebakaran besar yang melanda kompleks perumahan Wang Fuk Court pada 26 November meninggalkan duka mendalam bagi Hong Kong. Lebih dari 150 orang tewas, puluhan lainnya masih dinyatakan hilang, dan delapan bangunan hangus terbakar. Tragedi ini menjadi kebakaran paling mematikan di kota tersebut dalam hampir 20 tahun, menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar keselamatan bangunan dan praktik renovasi.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa penyebaran api yang cepat kemungkinan diperparah oleh penggunaan material konstruksi yang tidak sesuai standar. Polisi Hong Kong telah menangkap 13 orang terkait dugaan kelalaian dan pelanggaran keselamatan. Dari 20 sampel material yang diambil, beberapa di antaranya gagal memenuhi uji ketahanan api. Temuan ini menegaskan bahwa aspek teknis konstruksi dapat menjadi faktor penting dalam skala kehancuran kebakaran.
Api diduga bermula dari area perancah yang sedang digunakan untuk renovasi salah satu gedung. Dari sana, api merembet dengan cepat ke gedung-gedung di sekitarnya. Warga yang tinggal di kompleks tersebut menyatakan bahwa mereka tidak sempat menyelamatkan diri sepenuhnya, karena api menyebar terlalu cepat dan alarm kebakaran tidak terdengar di beberapa titik.
Selain korban jiwa, kebakaran ini juga menimbulkan dampak sosial yang signifikan. Banyak keluarga kehilangan rumah sekaligus tempat usaha kecil mereka. Komunitas setempat kini menghadapi tantangan besar untuk memulihkan kehidupan sehari-hari.
Tragedi ini memicu perdebatan publik mengenai regulasi keselamatan bangunan di Hong Kong. Pakar konstruksi dan arsitektur menekankan perlunya inspeksi rutin, uji ketahanan material yang lebih ketat, dan transparansi dalam proyek renovasi. Mereka menyoroti bahwa meskipun ada peraturan, implementasi dan pengawasan lapangan sering kali kurang ketat, sehingga potensi risiko tetap tinggi.
Beberapa pihak menyerukan agar pemerintah Hong Kong segera meninjau ulang standar keselamatan, terutama pada bangunan tua dan proyek renovasi. Langkah preventif ini dianggap penting untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.
Kebakaran ini juga menjadi perhatian komunitas internasional. Konsulat asing di Hong Kong memantau situasi dengan seksama. Misalnya, Konsulat Rusia memastikan tidak ada warganya yang menjadi korban dalam tragedi tersebut.
Pihak berwenang menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan tidak menutup kemungkinan ada pihak lain yang akan diproses secara hukum. Penangkapan 13 tersangka merupakan langkah awal untuk memastikan akuntabilitas, baik dari segi kelalaian manusia maupun penggunaan material yang tidak memenuhi standar.
Tragedi Wang Fuk Court menjadi pengingat pahit tentang pentingnya keselamatan bangunan dan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran. Bagi Hong Kong, kasus ini bukan hanya soal angka korban, tetapi juga tentang perlunya reformasi dan pengawasan yang lebih ketat agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
Sumber : Sputnik







