Menjelang pergantian Tahun Baru, ketegangan perang Rusia–Ukraina kembali meningkat. Serangan drone terjadi di kedua wilayah, memicu kerusakan infrastruktur dan menimbulkan korban sipil, sementara masing-masing pihak saling menyalahkan atas serangan udara tersebut.
Lumineerdaily.com – Suasana malam pergantian tahun di Rusia dan Ukraina berlangsung di bawah bayang-bayang konflik. Otoritas Rusia melaporkan serangan drone menghantam kota pelabuhan Tuapse di wilayah Krasnodar, menyebabkan kebakaran di area kilang minyak serta melukai dua warga sipil.
Markas operasional setempat menyebut api sempat membakar area sekitar 300 meter persegi sebelum berhasil dipadamkan. Selain kilang minyak, beberapa gedung apartemen dan rumah warga mengalami kerusakan, termasuk pecahnya kaca jendela. Sebuah dermaga pelabuhan juga dilaporkan terdampak.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat puluhan drone Ukraina dalam semalam, dengan sebagian besar ditembak jatuh di wilayah Laut Hitam. Klaim ini disampaikan tanpa bukti visual yang dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, Ukraina juga melaporkan serangan udara Rusia yang berdampak langsung pada warga sipil. Dinas Layanan Darurat Negara Ukraina menyatakan sedikitnya enam orang, termasuk anak-anak, terluka akibat serangan di wilayah Odesa. Sejumlah bangunan tempat tinggal dan fasilitas energi mengalami kerusakan.
Petugas pemadam kebakaran dan tim penyelamat dilaporkan mengevakuasi warga dari gedung-gedung yang terdampak. Serangan juga terjadi di wilayah Dnipropetrovsk, di mana otoritas setempat melaporkan gangguan jaringan listrik dan kerusakan infrastruktur permukiman akibat serangan drone.
Angkatan Udara Ukraina mengklaim telah menembak jatuh sebagian besar drone yang diluncurkan Rusia dalam serangan semalam. Namun, seperti klaim Rusia, pernyataan tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya secara independen.
Serangan saling balas menjelang Tahun Baru ini kembali menegaskan bahwa konflik Rusia–Ukraina masih jauh dari kata reda. Di tengah perayaan yang seharusnya diwarnai harapan baru, warga sipil di kedua negara justru harus menghadapi ancaman perang yang terus berlanjut.
Sumber : Anadolu







