Trenggalek – Tradisi Kupatan di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, terus terjaga sebagai bagian dari warisan budaya religius masyarakat setempat. Perayaan yang berlangsung pada bulan Syawal ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi telah berkembang sebagai momentum utama mempererat hubungan sosial.
Berbeda dengan kebiasaan di sejumlah daerah, warga Durenan menjadikan Kupatan sebagai puncak silaturahmi. Suasananya bahkan kerap lebih semarak dibandingkan perayaan Idul Fitri. Ribuan warga, termasuk perantau, memanfaatkan momen ini untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga.
Secara historis, tradisi ini diyakini berakar dari ajaran tokoh agama setempat, Kyai Abdul Masir, yang memperkenalkan kebiasaan tersebut sebagai penanda berakhirnya rangkaian ibadah puasa sunnah di bulan Syawal. Dari lingkungan pesantren, praktik ini kemudian meluas dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Rangkaian kegiatan Kupatan diawali dengan ziarah ke makam para leluhur. Pada puncaknya, warga menggelar arak-arakan ketupat yang disusun dalam bentuk tumpeng, dilanjutkan dengan makan bersama dan tradisi saling berkunjung antarwarga.
Selain nilai religius, Kupatan juga sarat makna filosofis. Ketupat dimaknai sebagai simbol pengakuan kesalahan dan ajakan untuk saling memaafkan. Nilai tersebut diwujudkan dalam kebiasaan berbagi makanan serta membuka rumah bagi tamu yang datang.
Pemerintah daerah turut memberikan perhatian terhadap tradisi ini. Bupati Mochamad Nur Arifin mendorong agar Kupatan masuk dalam agenda wisata daerah. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat potensi wisata religi sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Setiap tahun, perayaan Kupatan di Durenan juga berdampak pada meningkatnya kunjungan dari luar daerah. Arus lalu lintas di kawasan tersebut cenderung padat karena tingginya antusiasme masyarakat yang ingin merasakan langsung suasana tradisi.
Di tengah perkembangan zaman, Kupatan tetap menjadi ruang pertemuan antara nilai budaya dan keagamaan. Tradisi ini tidak hanya mempererat kebersamaan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
(gun).







