Tulungagung, Lumineerdaily – Ratusan kambing jerabang mengikuti kontes regional Jawa Timur di Lapangan Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, Minggu (19/10/2025). Ajang ini bukan sekadar lomba kecantikan hewan ternak, tetapi juga menjadi langkah penting dalam upaya menetapkan galur kambing Jerabang Tulungagung agar tak diklaim daerah lain, bahkan negara lain.
Kambing jerabang merupakan hasil persilangan kambing Jawa randu dengan kambing berwarna hitam-putih, seperti peranakan etawa (PE) dan kambing kacang. Hasilnya, muncul kambing dengan postur besar dan warna khas kemerahan—asal nama jerabang, dari kata abang yang berarti merah dalam bahasa Jawa.
Menurut Wakil Ketua Umum Indonesia Goat Breeder (IGB), Nur MH, kontes kambing jerabang pertama kali digelar pada tahun 2018. Sejak itu, popularitasnya meningkat pesat hingga kini diternakkan di berbagai daerah.
“Pengembang awalnya memang dari Tulungagung. Dari sini kemudian menyebar dan berkembang ke banyak wilayah,” jelas Nur MH.
Dalam kontes kali ini, panitia membuka berbagai kelas, mulai dari kelas E hingga A, baik jantan maupun betina. Tujuannya tidak hanya mencari juara, tetapi juga mengukuhkan ciri khas fisik dan genetik kambing jerabang sebagai dasar pengajuan penetapan galur Jerabang Tulungagung.
“Kalau galurnya nanti sudah diakui dari Tulungagung, maka daerah lain tidak bisa mengklaim. Setelah itu bisa diajukan ke tahap SNI (Standar Nasional Indonesia), dan kalau sudah SNI, berarti levelnya sudah internasional,” terang Nur.
Ia menambahkan, pengakuan resmi galur Jerabang Tulungagung penting agar hewan hasil persilangan lokal ini tidak diklaim negara lain di masa depan.
Selain itu, kontes juga memberi dampak ekonomi besar bagi para peternak. Harga kambing jerabang juara bisa melonjak drastis, bahkan pernah ada yang ditawar hingga Rp500 juta namun tidak dijual.
“Kambing juara punya nilai tambah sebagai pejantan. Tarif kawinnya bisa mencapai Rp1,5 juta sekali kawin, dan anaknya bisa dijual Rp15 juta sampai Rp25 juta,” ungkap Nur MH.
Menurutnya, kontes bukan hanya ajang adu gengsi, tetapi juga sarana memperkuat jaringan antarpeternak dan menumbuhkan semangat berkompetisi yang sehat.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Tulungagung, Mulyanto, menjelaskan bahwa kambing jerabang sudah dikembangkan peternak lokal sejak tahun 1980-an. Kini, jenis kambing ini menjadi salah satu unggulan daerah.
“Kami sudah bekerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB) untuk mendaftarkan galur jerabang. Saat ini sudah dalam tahap penelitian genotipe dan fenotipe,” ujar Mulyanto.
Dengan dukungan pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas peternak, diharapkan kambing jerabang resmi diakui sebagai galur asli Tulungagung. Langkah ini menjadi upaya menjaga kekayaan genetik lokal agar tetap menjadi kebanggaan Indonesia.







