TRENGGALEK – Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Trenggalek tahun ini tidak hanya diisi seremoni, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang arah perubahan sosial. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam: semangat Kartini bukan hanya milik perempuan, tetapi milik semua orang yang ingin bergerak maju.
Pernyataan itu disampaikan Arifin saat menghadiri rangkaian kegiatan pemberdayaan perempuan yang digelar di pusat kota Trenggalek, Sabtu (18/4/2026). Dalam forum tersebut, ia berbicara lugas, tidak sekadar mengulang narasi emansipasi, tetapi mencoba menariknya ke dalam konteks kekinian.
Baginya, Kartini tidak hanya bicara soal kesetaraan, tetapi tentang keberanian untuk memiliki kemauan.
“Semangat Kartini itu sederhana, tapi dalam. ‘Saya mau’. Banyak orang punya kesempatan, tapi tidak punya kemauan untuk berubah,” ujarnya di hadapan peserta.
Menarik Isu Gender ke Ruang Personal
Arifin tidak berhenti pada pesan umum. Ia membawa isu kesetaraan ke ruang yang lebih personal, mengakui bahwa perubahan juga harus dimulai dari diri sendiri. Ia menyebut pernah mendalami studi gender saat menempuh pendidikan pascasarjana, dan dari sana mulai menyadari pentingnya mengendalikan ego patriarki.
Ia bahkan menyebut sosok Novita Hardini sebagai salah satu inspirasi dalam proses tersebut.
“Saya belajar menekan ego patriarki dalam diri saya sendiri. Itu proses, bukan sesuatu yang langsung selesai,” katanya.
Pernyataan ini memberi gambaran bahwa isu kesetaraan tidak lagi ditempatkan sebagai wacana normatif, melainkan sebagai praktik yang harus dijalani, bahkan oleh seorang kepala daerah.
Kartini dan Jejak Intelektual
Dalam penjelasannya, Arifin juga menyinggung sisi lain dari Kartini yang jarang dibahas: perannya dalam mendorong lahirnya pemahaman keagamaan yang lebih terbuka.
Ia mengaitkan semangat Kartini dalam mencari ilmu dengan lahirnya terjemahan Al-Qur’an beraksara Arab Pegon yang disusun oleh Kiai Soleh Darat.
“Dari kegelisahan Kartini yang ingin memahami agama, muncul terjemahan Al-Qur’an dalam huruf Arab Pegon. Itu bagian dari sejarah yang sering terlupakan,” jelasnya.
Narasi ini memperluas makna Kartini—tidak hanya sebagai simbol emansipasi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan intelektual.
Kesetaraan sebagai Kerja Bersama
Di tengah berkembangnya wacana kesetaraan gender, Arifin menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dibebankan hanya kepada perempuan. Ia mengajak laki-laki untuk ikut mengambil peran, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari proses.
“Ini bukan hanya perayaan perempuan. Laki-laki juga harus punya kemauan untuk memperbaiki diri,” tegasnya.
Menurutnya, setiap individu memiliki peluang yang sama untuk berkembang, selama ada kemauan untuk bergerak. Pesan ini disampaikan tanpa retorika berlebihan—lebih seperti ajakan langsung yang membumi.
Dari Seremoni ke Aksi Nyata
Peringatan Hari Kartini di Trenggalek kali ini mencoba keluar dari pola seremonial. Pesan yang disampaikan tidak berhenti di panggung, tetapi diarahkan pada perubahan cara berpikir.
Arifin menutup pernyataannya dengan ajakan terbuka kepada seluruh masyarakat.
“Ayo kita tumbuhkan keberanian dan kemauan. Tidak hanya perempuan, tapi juga laki-laki,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berubah, pesan itu terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak kekuatannya, bahwa perubahan besar sering kali berawal dari satu hal kecil, kemauan untuk memulai.
(gun)







