TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Tradisi manten tebu kembali digelar di Pabrik Gula (PG) Mojopangung Tulungagung, Sabtu (10/5/2026), menandai dimulainya musim giling tahun ini sekaligus menjadi momentum penguatan sektor pergulaan di wilayah selatan Jawa Timur.
Ritual tahunan tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya industri gula, tetapi juga menjadi simbol dimulainya target produksi tebu dan gula nasional yang lebih tinggi.
Prosesi manten tebu diawali dengan arak-arakan sepasang boneka pengantin yang melambangkan “pengantin tebu”, diiringi batang tebu menuju area penggilingan.
Setelah rangkaian doa dan seremoni adat selesai, batang tebu kemudian dimasukkan secara simbolis ke mesin penggiling sebagai tanda dimulainya operasional musim giling 2026.
General Manager PG Mojopangung, Sugiyanto, mengatakan tradisi manten tebu memiliki makna filosofis yang erat dengan hubungan antara petani dan industri pengolahan gula.
Menurutnya, keberhasilan musim giling tidak hanya bergantung pada kapasitas pabrik, tetapi juga kualitas kemitraan dengan petani sebagai pemasok utama bahan baku.
“Makna manten tebu adalah menyatukan petani dan pabrik gula agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujarnya.
Pada musim giling tahun ini, PG Mojopangung menargetkan penggilingan tebu mencapai 446.123 ton.
Dari jumlah tersebut, produksi gula ditargetkan menembus 33.705 ton.
Target tersebut menunjukkan optimisme industri gula daerah di tengah kebutuhan nasional yang terus meningkat.
Pasokan tebu untuk PG Mojopangung berasal dari lima wilayah, yakni Tulungagung, Trenggalek, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kediri, hingga Malang.
Luas cakupan pasokan ini memperlihatkan posisi PG Mojopangung sebagai salah satu titik penting rantai produksi gula di kawasan selatan Jawa Timur.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menyatakan pemerintah daerah akan memperkuat dukungan terhadap sektor tebu melalui perluasan area tanam.
Pemkab Tulungagung menargetkan pembukaan lahan tebu baru seluas 3.000 hektare.
Langkah tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas produksi bahan baku sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional di sektor gula.
“Kami siap bersinergi dengan pabrik gula dan petani untuk meningkatkan produksi tebu daerah,” kata Baharudin.
Menurutnya, pengembangan sektor tebu bukan hanya berkaitan dengan target produksi nasional, tetapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi petani dan perputaran usaha lokal.
Musim giling PG Mojopangung sendiri diperkirakan berlangsung selama 161 hari.
Dalam periode tersebut, aktivitas industri diprediksi akan meningkatkan mobilitas ekonomi di sekitar kawasan pabrik, mulai dari tenaga kerja musiman, transportasi tebu, hingga aktivitas perdagangan penunjang.
Di tengah tantangan ketahanan pangan dan kebutuhan stabilitas pasokan gula, momentum musim giling menjadi bagian penting dalam menjaga produksi domestik.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, petani, dan industri dinilai menjadi faktor utama agar target produksi tidak berhenti pada seremoni pembukaan semata.
Tradisi manten tebu pun kembali menunjukkan wajah ganda industri gula Indonesia: menjaga akar budaya sekaligus mengejar target ekonomi modern.
(gun)













