TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis setelah satu warga dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian karena leptospirosis termasuk penyakit yang kerap muncul di wilayah dengan aktivitas pertanian tinggi dan lingkungan yang berisiko terpapar tikus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, mengatakan sejak Januari hingga Mei 2026 tercatat 13 kasus suspek leptospirosis.
Dari jumlah tersebut, 11 orang dinyatakan positif, sementara dua lainnya negatif berdasarkan hasil pemeriksaan.
“Dari 13 suspek, dua dinyatakan negatif leptospirosis. Suspek yang dinyatakan positif alhamdulillah mulai sembuh,” ujar Aris, Rabu (13/5/2026).
Meski mayoritas pasien menunjukkan perkembangan membaik, Dinkes mengonfirmasi satu pasien meninggal dunia akibat infeksi bakteri leptospira.

“Tahun ini ada satu pasien yang meninggal dunia akibat leptospirosis,” katanya.
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui bakteri Leptospira, umumnya berasal dari urine atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penularan bisa terjadi ketika air, tanah, atau makanan terkontaminasi lalu masuk ke tubuh melalui luka terbuka, mulut, hidung, maupun mata.
Menurut Aris, warga yang beraktivitas di sawah menjadi kelompok dengan risiko lebih tinggi.
“Vektor penyakit leptospirosis adalah tikus sawah. Apalagi di Tulungagung masih banyak masyarakat yang bekerja di area persawahan,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, Dinkes meminta warga yang bekerja di sawah maupun area berlumpur menggunakan alat pelindung diri (APD), terutama sepatu boots, sarung tangan, dan perlengkapan lain yang dapat meminimalkan kontak langsung dengan air atau tanah yang berpotensi terkontaminasi.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala awal yang kerap muncul.
Gejala leptospirosis umumnya meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga tubuh lemas. Pada kondisi lebih berat, penyakit ini dapat mengganggu fungsi hati dan ginjal.
Aris menjelaskan, salah satu tanda yang perlu diwaspadai yakni perubahan warna kekuningan pada bagian tubuh tertentu.
“Penyakit leptospirosis cenderung menyerang fungsi liver. Biasanya muncul tanda seperti kuning di area mata, tangan, atau kaki,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko.
“Kalau habis kontak dengan kotoran tikus atau bekerja di tempat yang rawan, mohon segera sampaikan ke petugas kesehatan agar bisa dilakukan deteksi dini,” katanya.
Dinkes juga menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menjaga kebersihan lingkungan rumah, menutup makanan dengan baik, serta mengendalikan populasi tikus di sekitar tempat tinggal.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa penyakit berbasis lingkungan masih menjadi tantangan kesehatan di daerah dengan aktivitas pertanian yang tinggi.
Dengan banyaknya warga Tulungagung yang beraktivitas di sawah, kewaspadaan terhadap leptospirosis dinilai perlu terus ditingkatkan agar kasus serupa tidak kembali menimbulkan korban. (gun)













