TULUNGAGUNG, Lumineerdaily.com – Warga Tulungagung kembali menyoroti kondisi Alun-Alun kota yang memprihatinkan setelah digelarnya Bazar Djadoel akhir pekan lalu. Puluhan kantong sampah, sisa makanan, kardus, dan limbah pedagang masih berserakan, mengotori pusat kota dan menimbulkan bau tidak sedap yang menyengat.
Sejumlah titik di alun-alun bahkan berubah menjadi sarang lalat, membuat pengunjung enggan berlama-lama. “Ini bukan sekadar kotor. Jalan setapak, taman, dan area duduk bau menyengat. Rasanya bukan alun-alun kota, tapi TPS dadakan,” keluh salah seorang warga melalui media sosial.
Kritik warga tidak hanya menyasar kebersihan, tetapi juga pengawasan dan respons lambat pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung. Banyak yang mempertanyakan mengapa kondisi kumuh itu dibiarkan berjam-jam, bahkan berhari-hari, setelah acara usai.
Menanggapi sorotan warga, DLH Tulungagung melalui Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Yudha Yanuar Hadi, mengakui adanya keterlambatan dalam penanganan. Pihaknya menyebut kendala teknis dan proses pembongkaran stan yang tidak serentak menjadi faktor utama.
“Kami akui kondisi alun-alun memang sempat kotor. Pembongkaran stan ada yang baru selesai pagi, dan malam hari tim kami kesulitan masuk karena alun-alun masih ramai,” jelas Yudha.
Ia menambahkan, sebagian sampah berupa sisa makanan dan minuman dibuang ke saluran air, bukan di tempat sampah yang telah disediakan, sehingga menimbulkan bau dan lalat. Menurutnya, hal ini menunjukkan kurangnya disiplin sebagian pedagang.
Meskipun DLH mengklaim telah menyiapkan tim kebersihan rutin dan melakukan sosialisasi kepada penyelenggara, warga menilai langkah tersebut masih jauh dari cukup. Banyak yang menyoroti lemahnya koordinasi, baik antara DLH, penyelenggara acara, maupun pedagang, sehingga ruang publik menjadi korban.
Pengamat tata kota menekankan bahwa alun-alun sebagai ruang publik seharusnya menjadi contoh kebersihan dan kenyamanan. “Acara besar tanpa manajemen sampah yang matang akan selalu meninggalkan dampak buruk bagi warga. Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi soal tata kelola ruang publik yang profesional,” kata salah seorang pengamat.
DLH sendiri berjanji akan melakukan pembersihan menyeluruh dan menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi untuk event mendatang. Namun, warga menegaskan bahwa janji saja tidak cukup. Mereka menuntut adanya sistem pengelolaan sampah yang ketat, pengawasan tegas terhadap pedagang, serta prosedur yang jelas agar alun-alun tidak berubah menjadi kawasan kumuh setiap kali ada event besar.
(GN).







