Pemerintah bahkan membuka peluang percepatan penyelesaian dari target awal 2029 apabila dukungan anggaran dan pelaksanaan teknis berjalan sesuai rencana.
Meski progres proyek terus didorong, warga berharap pembangunan tidak hanya terpusat pada struktur utama bendungan.
Akses jalan menuju lokasi dinilai menjadi bagian penting yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
Kerusakan jalan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut biaya transportasi, keselamatan pengguna jalan, dan efisiensi aktivitas ekonomi lokal.
Kondisi ini memperlihatkan tantangan klasik pembangunan proyek besar, manfaat jangka panjang dijanjikan, tetapi beban jangka pendek justru lebih dulu ditanggung warga sekitar.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek menyebut telah melakukan perbaikan berkala sembari berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Ada pula opsi pengajuan bantuan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) setelah proyek selesai.
Namun skema tersebut diperkirakan baru berpeluang terealisasi beberapa tahun mendatang.
Bagi warga, persoalannya lebih sederhana: jalan rusak dipakai hari ini, bukan setelah proyek selesai.
Di tengah optimisme pemerintah terhadap Bendungan Bagong sebagai penopang irigasi, pengendalian banjir, dan ketahanan air, masyarakat berharap pembangunan besar juga dibarengi perhatian nyata terhadap infrastruktur dasar di sekitarnya.
Sebab keberhasilan proyek bukan hanya diukur dari berdirinya bendungan, tetapi juga dari sejauh mana manfaat pembangunan dirasakan tanpa mengorbankan akses harian warga.
(gun)
Halaman : 1 2













