TRENGGALEK – Kebutuhan layanan cuci darah di Kabupaten Trenggalek mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mendorong RSUD dr. Soedomo untuk melakukan berbagai penyesuaian agar pelayanan tetap optimal di tengah keterbatasan sarana.
Manajemen rumah sakit mencatat adanya tren kenaikan pasien dengan gangguan ginjal kronis yang membutuhkan terapi hemodialisis rutin. Meski belum melonjak drastis, peningkatan ini cukup berdampak terhadap kapasitas layanan yang tersedia.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr. Soedomo, dr. Saeroni, mengungkapkan bahwa saat ini unit hemodialisis masih beroperasi dengan jumlah mesin terbatas. Penggunaan alat harus diatur secara ketat agar seluruh pasien tetap terlayani sesuai kebutuhan medis.
Menurutnya, layanan dibagi ke dalam beberapa kategori, mulai dari pasien rutin hingga pasien dengan kondisi darurat yang membutuhkan tindakan segera. Penanganan kasus darurat menjadi prioritas, sementara pasien reguler mengikuti jadwal terapi yang telah ditentukan.
Dalam praktiknya, satu unit mesin dapat digunakan secara bergantian untuk beberapa pasien dalam kurun waktu tertentu. Namun, tingginya kebutuhan membuat tidak semua pasien baru bisa langsung masuk dalam program terapi rutin.
“Penambahan pasien harus menunggu ketersediaan slot. Ini yang menjadi tantangan kami saat ini,” ujarnya.
Selain itu, jumlah pasien harian juga bervariasi tergantung kondisi medis. Dalam satu hari, layanan hemodialisis bisa melayani puluhan pasien dengan tingkat kebutuhan yang berbeda-beda.
Melihat perkembangan tersebut, RSUD dr. Soedomo berencana menambah fasilitas hemodialisis pada tahun 2026. Penambahan ini diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan sekaligus mengurangi antrean pasien yang selama ini terjadi.
Di sisi lain, pihak rumah sakit juga menyoroti profil pasien yang menjalani terapi. Sebagian besar berada pada usia produktif dan memiliki riwayat penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi maupun diabetes.
Fenomena ini menjadi perhatian tersendiri karena menunjukkan perubahan pola penyakit di masyarakat. Bahkan, dalam beberapa kasus, pasien berusia remaja juga mulai ditemukan menjalani terapi cuci darah.
Kondisi tersebut mendorong rumah sakit untuk tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga upaya pencegahan. Edukasi terkait pola hidup sehat dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus baru.
Masyarakat diimbau untuk menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, serta menghindari kebiasaan yang berisiko terhadap kesehatan ginjal. Pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes juga menjadi kunci utama pencegahan.
Dengan rencana penguatan fasilitas dan peningkatan layanan, RSUD dr. Soedomo berharap mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas penanganan pasien gagal ginjal di Trenggalek.
(gun)







