DOHA – Koalisi Arab pimpinan Arab Saudi mengumumkan berakhirnya operasi militer terbatas di Pelabuhan Al Mukalla, Yaman timur. Koalisi menyatakan aktivitas pelabuhan telah kembali berjalan normal setelah operasi tersebut selesai dilaksanakan.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Saudi Press Agency (SPA), koalisi menyebutkan bahwa operasi militer di pelabuhan tersebut telah berakhir tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan tambahan.
Operasi militer terbatas di Pelabuhan Al Mukalla telah selesai, dan aktivitas pelabuhan telah kembali normal,” demikian pernyataan koalisi pimpinan Saudi.
Sebelumnya, koalisi mengumumkan tengah melakukan operasi di pelabuhan yang berada di kota Al Mukalla, pusat administrasi Provinsi Hadhramaut. Warga sipil sempat diminta untuk meninggalkan area pelabuhan selama operasi berlangsung.
Koalisi kemudian menyatakan telah menargetkan kargo militer yang dikirim menggunakan dua kapal dari Uni Emirat Arab (UEA) dan ditujukan kepada pasukan Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis yang menguasai sejumlah wilayah strategis di Yaman selatan dan timur.
Sementara itu, sumber pemerintah Yaman mengatakan kepada Sputnik bahwa Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman (Presidential Leadership Council/PLC), Rashad Al-Alimi, melakukan kunjungan ke Arab Saudi untuk membahas perkembangan situasi keamanan di wilayah timur Yaman.
Kunjungan tersebut dilakukan menyusul pengambilalihan sejumlah lembaga pemerintah dan bandara di Provinsi Hadhramaut oleh kelompok separatis Dewan Transisi Selatan, yang terlibat konflik dengan kelompok suku setempat terkait penguasaan sumber daya minyak.
Pada awal Desember, pasukan yang bersekutu dengan kelompok separatis selatan dilaporkan menguasai ladang minyak Al Masilah milik PetroMasila setelah bentrokan dengan unit Aliansi Suku Hadhramaut yang telah ditempatkan di lokasi tersebut selama lebih dari satu tahun.
Bentrokan tersebut mengakibatkan 12 orang tewas dan luka-luka dari kedua pihak, menurut sumber di pemerintahan setempat. Akibat kejadian itu, PetroMasila menghentikan produksi minyak yang sebelumnya mencapai sekitar 85.000 hingga 90.000 barel per hari.

Hingga kini, situasi keamanan di wilayah timur Yaman masih dipantau oleh berbagai pihak seiring upaya menjaga stabilitas dan kelancaran aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Sumber : Sputnik







