Treviso, Italia – Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Eropa kembali menegaskan komitmennya dalam diplomasi budaya dengan menggelar acara tahunan bertajuk Kebaya Night di Kota Treviso, Italia, Minggu (2/2/2026). Acara ini berlangsung di Feria Restaurant, restoran prestisius yang masuk dalam Michelin Guide, dan menjadi ajang perayaan kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia di panggung internasional.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan PBI Eropa dalam mempromosikan kebaya sebagai warisan budaya bangsa, sekaligus menindaklanjuti kunjungan organisasi ini ke UNESCO pada Februari 2025. Momentum ini juga bertepatan dengan perayaan Hari Kebaya Nasional yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia.
Acara Kebaya Night mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma, istri pendamping Duta Besar KBRI Vatikan, para penggiat budaya, serta mitra bisnis dari Indonesia dan Italia. Saat ini, PBI Eropa menaungi perwakilan dari 23 negara, sementara gelaran di Treviso dihadiri delegasi dari 10 negara Eropa, antara lain Belanda, Prancis, Swiss, Italia, Norwegia, Spanyol, Republik Irlandia, Irlandia Utara, Skotlandia, hingga Vatikan.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia, Prof. Dr. Junimart Girsang, dalam sambutannya menekankan bahwa kebaya memiliki nilai yang melampaui fungsi busana semata.
“Bagi bangsa Indonesia, kebaya adalah identitas, sejarah, sekaligus narasi tentang perempuan Indonesia. Di dalamnya terdapat keanggunan yang berpadu dengan keteguhan, serta tradisi yang terus hidup dan relevan mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan penggiat budaya, Ibu Atie Nitiasmoro. Menurutnya, gerakan berkebaya tidak hanya soal pelestarian busana tradisional, tetapi juga upaya menguatkan jati diri bangsa di tengah arus modernisasi global.
“Kampanye berkebaya adalah bagian dari menanamkan kembali nilai nasionalisme dan patriotisme, terutama bagi generasi muda dan diaspora Indonesia di luar negeri,” ungkapnya.
Ketua PBI Eropa, Christiana D. Streiff, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan terus membawa kebaya ke ruang-ruang internasional sebagai simbol budaya nasional yang berkelas global.
“Kami berkomitmen memperkuat posisi kebaya sebagai identitas budaya nasional Indonesia yang mampu berdiri sejajar di tingkat dunia,” tegas Christiana.
Sekitar 50 tamu undangan hadir dalam acara tersebut, termasuk Konsul Kehormatan Indonesia di Trieste, Ibu Gloria Gigante, para pelaku industri mode, serta masyarakat diaspora Indonesia dari berbagai negara Eropa.
Rangkaian Kebaya Night diisi dengan peragaan busana kebaya yang menampilkan perpaduan nilai tradisi dan sentuhan modern, pertunjukan seni oleh Cahaya penyanyi muda berbakat alumni The Voice Kids Spanyol dan Eurovision Junior Spanyol, serta pameran mini kain tradisional Indonesia yang disertai dialog budaya.
Acara ditutup dengan jamuan makan malam karya Chef Marco Feltrin, yang sekaligus menjadi ruang jejaring bagi pelaku bisnis dan penggiat budaya lintas negara.
Sebagai informasi, PBI Eropa didirikan pada 6 November 2022 di Zurich, Swiss. Berawal dari perwakilan sembilan negara, organisasi ini terus berkembang dan aktif menggaungkan kebaya sebagai jati diri perempuan Indonesia, termasuk memperjuangkan penetapan Hari Kebaya Nasional dan memperkenalkan kebaya kepada generasi diaspora, termasuk perempuan hasil pernikahan campur di luar negeri.
(gun/at).







