TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Sektor budidaya ikan air tawar di Kabupaten Tulungagung menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Dinas Perikanan Tulungagung mencatat total produksi mencapai 53,2 juta kilogram dengan nilai ekonomi menembus Rp1,1 triliun.
Angka tersebut menjadikan sektor perikanan budidaya sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah yang terus tumbuh di tengah kebutuhan pangan dan permintaan pasar yang stabil.
Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Tulungagung, Dedy Azhar Muhammad, mengatakan produksi ikan air tawar di wilayahnya ditopang lima komoditas utama, yakni lele, patin, gurami, nila, dan gabus.
Menurut dia, Tulungagung saat ini memiliki sekitar 13 ribu pembudidaya, termasuk pelaku usaha ikan hias.
Sebagian besar aktivitas budidaya terkonsentrasi di kawasan dataran rendah seperti Kecamatan Sumbergempol, Boyolangu, Rejotangan, Ngunut, dan Kedungwaru.
“Wilayah pegunungan relatif jarang ditemukan pembudidaya ikan air tawar. Sentra budidaya lebih banyak berada di dataran rendah,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Dari total produksi 53.226.500 kilogram, komoditas gurami dan patin menjadi penyumbang terbesar.
Produksi ikan gurami tercatat mencapai 21 juta kilogram, patin 20 juta kilogram, lele 11 juta kilogram, nila 112 ribu kilogram, dan gabus sekitar 62 ribu kilogram.
Selain memenuhi kebutuhan pasar lokal, hasil budidaya Tulungagung juga didistribusikan ke berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, hingga sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
Beberapa komoditas tertentu, terutama patin, juga dipasok ke industri pengolahan.
“Selain memenuhi kebutuhan pasar lokal dan luar daerah, ikan patin juga dikirim ke pabrik fillet,” kata Dedy.
Dari sisi ekonomi, komoditas gurami menyumbang nilai terbesar dengan Rp497,2 miliar, diikuti patin Rp312,3 miliar dan lele Rp200,9 miliar.
Sementara nila menghasilkan Rp1,7 miliar dan gabus Rp1,9 miliar.
Tak hanya budidaya air tawar, sektor perikanan air payau juga memberi kontribusi tambahan.
Sepanjang 2025, produksi udang vaname di Tulungagung tercatat mencapai 525 ribu kilogram dengan nilai panen sekitar Rp31,5 miliar.
Kenaikan produksi sekitar 9 persen dibanding tahun sebelumnya menunjukkan sektor budidaya perikanan di Tulungagung berkembang konsisten.
Meski demikian, peningkatan produksi juga memunculkan tantangan baru.
Besarnya volume hasil budidaya perlu diimbangi penguatan hilirisasi, akses distribusi, kestabilan harga pakan, hingga pengembangan industri pengolahan agar nilai tambah tidak berhenti di tingkat produksi primer.
Di tengah tekanan ekonomi nasional, capaian ini menunjukkan sektor pangan lokal memiliki potensi besar menjadi penyangga ekonomi daerah apabila dikelola lebih terintegrasi.
Budidaya ikan tidak lagi sekadar sektor penunjang, tetapi mulai menempati posisi penting dalam rantai ekonomi Tulungagung.
(gun)













