Tulungagung, Lumineerdaily – Dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional 2025, Polres Tulungagung menunjukkan kepedulian sosial dengan menyalurkan bantuan 15 ton beras kepada 60 pondok pesantren yang tersebar di 19 kecamatan se-Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Penyaluran bantuan tersebut dipimpin langsung Kapolres Tulungagung AKBP Muhammad Taat Resdi bersama jajaran pejabat utama (PJU) Polres Tulungagung. Penyerahan simbolis dilakukan di Pondok Pesantren Al Fattahiyah, Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, Rabu (22/10/2025).
“Penyaluran tali asih ini merupakan wujud dukungan kami kepada seluruh pondok pesantren di Kabupaten Tulungagung. Kami ingin mempererat silaturahmi serta memperkuat sinergi antara kepolisian dan lembaga keagamaan,” ujar Kapolres Tulungagung AKBP Muhammad Taat.
Ia menyebutkan, secara keseluruhan terdapat 60 pondok pesantren yang akan menerima bantuan beras tersebut.
“Hari ini kami serahkan secara simbolis satu ton beras untuk Ponpes Al Fattahiyah. Totalnya sebanyak 15 ton yang akan kami distribusikan ke seluruh pesantren di 19 kecamatan,” jelasnya.
Kapolres menegaskan, kegiatan sosial ini bukan sekadar bentuk bantuan materi, tetapi juga simbol perhatian dan sinergi antara Polri dan pesantren dalam menjaga ketenteraman serta ketertiban masyarakat.
“Kami memohon doa dari para kiai dan santri agar Tulungagung senantiasa aman, tertib, ayem, dan tentrem. Sinergi yang sudah terjalin baik ini diharapkan terus terpelihara,” imbuhnya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al Fattahiyah Miren, KH. Muh. Anang Muhsin, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian Polres Tulungagung terhadap kalangan pesantren.
“Bagi kami, perhatian dari Polri ini merupakan kehormatan dan bentuk sinergi nyata antara aparat keamanan dengan lembaga keagamaan. Insyaallah ini menjadi ikatan yang kuat untuk mewujudkan keamanan dan kedamaian di Tulungagung,” kata Kiai Muhsin.

Melalui kegiatan sosial ini, Polres Tulungagung menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di tengah masyarakat — tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga melalui aksi kemanusiaan yang memperkuat hubungan antara aparat dan masyarakat pesantren.







