SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai mematangkan langkah besar di sektor pendidikan melalui pengembangan Sekolah Rakyat (SR) yang ditargetkan beroperasi penuh pada tahun ajaran 2026/2027. Program ini disiapkan sebagai jalur alternatif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak tanpa beban biaya.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 19 titik Sekolah Rakyat yang tengah dipersiapkan menjadi unit permanen. Seluruhnya sedang dalam proses pembangunan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
“Setiap sekolah diproyeksikan menampung sekitar seribu siswa. Jadi totalnya ribuan anak akan terlayani dalam satu tahun ajaran,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Sebaran Luas, Infrastruktur Dikebut
Sekolah Rakyat akan tersebar di berbagai daerah, mulai dari kota besar hingga wilayah pinggiran. Beberapa di antaranya berada di Surabaya, Gresik, Malang, Banyuwangi, Jember, hingga Trenggalek dan Pacitan.
Namun tidak semua wilayah sudah memiliki rintisan operasional. Sejumlah daerah seperti Sampang, Ngawi, Nganjuk, Kota Blitar, Kota Kediri, dan Kabupaten Madiun masih dalam tahap percepatan pembangunan fisik.
Pada tahun ajaran sebelumnya, beberapa Sekolah Rakyat telah berjalan dengan memanfaatkan gedung pinjaman milik pemerintah daerah maupun perguruan tinggi. Tahun depan, seluruh unit ditargetkan sudah menempati bangunan permanen.
Seleksi Berbasis Data Sosial
Program ini tidak dibuka secara umum. Pemerintah menetapkan sasaran yang spesifik, yakni keluarga dalam kategori desil satu dan dua berdasarkan data Kementerian Sosial dan Badan Pusat Statistik.
Jika ada keluarga yang belum tercatat namun secara kondisi nyata tidak mampu, akan dilakukan verifikasi langsung di lapangan. Mekanisme ini disiapkan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Pendaftaran dilakukan melalui Dinas Sosial di masing-masing kabupaten/kota, tanpa prosedur berbelit.
Gratis Total, Sistem Asrama Disiapkan
Sekolah Rakyat dirancang dengan konsep layanan penuh. Selain pendidikan gratis, siswa juga akan mendapatkan fasilitas asrama, kebutuhan makan, hingga perlengkapan harian yang ditanggung pemerintah.
Untuk mendukung pembinaan karakter, setiap sekolah juga akan dilengkapi tenaga pengajar, termasuk guru agama dengan komposisi sekitar empat orang di tiap lokasi.
Model ini diharapkan tidak hanya memberi akses pendidikan, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih terarah dan stabil bagi siswa.
Langkah Strategis Kurangi Kesenjangan
Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan kesenjangan akses pendidikan. Dengan pendekatan berbasis kebutuhan dan dukungan fasilitas penuh, pemerintah mencoba memastikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak tertinggal.
Di tengah tantangan ekonomi dan biaya pendidikan yang terus meningkat, skema ini menjadi peluang nyata bagi ribuan anak untuk tetap bersekolah—tanpa harus terbebani biaya yang selama ini menjadi penghalang utama.
(gun)







