WFH Hemat Rp9 Miliar? Rencana Bupati Trenggalek Picu Tanda Tanya Soal Efektivitas dan Dampak Nyata

- Pewarta

Rabu, 22 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trenggalek – Rencana penerapan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) di Trenggalek mulai digodok sebagai strategi efisiensi anggaran. Bupati Mochamad Nur Arifin menyebut kebijakan ini berpotensi menghemat hingga Rp9 miliar yang akan dialihkan untuk pembangunan infrastruktur jalan.

Namun di balik klaim tersebut, muncul sejumlah pertanyaan mendasar terkait perhitungan, efektivitas, hingga potensi dampak lanjutan dari kebijakan tersebut.

Bupati menyampaikan bahwa skema WFH belum langsung diterapkan karena masih dalam tahap penghitungan dampak riil, khususnya terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Ia menargetkan kebijakan ini mampu menekan pengeluaran operasional pemerintah daerah.

Rencana yang disusun, ASN akan bekerja dari rumah satu hari dalam sepekan, yakni setiap Rabu. Pilihan hari ini disebut untuk menghindari potensi libur panjang jika digabung dengan akhir pekan.

Meski demikian, sejumlah aspek krusial dari kebijakan ini belum terjawab secara rinci.

Salah satunya terkait metode penghitungan angka efisiensi Rp9 miliar. Belum dijelaskan secara terbuka komponen apa saja yang masuk dalam kalkulasi tersebut, apakah hanya dari penghematan BBM perjalanan dinas, listrik kantor, atau termasuk biaya operasional lainnya.

Selain itu, efektivitas WFH dalam konteks birokrasi daerah juga menjadi catatan. Tidak semua pekerjaan ASN dapat dialihkan secara optimal ke sistem kerja jarak jauh, terutama bagi unit pelayanan yang membutuhkan kehadiran fisik.

Bupati memang menegaskan pelayanan publik tetap berjalan normal. Namun implementasinya di lapangan berpotensi menghadapi tantangan, terutama pada OPD yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Di sisi lain, penghematan BBM yang menjadi dasar utama kebijakan ini juga belum tentu signifikan jika tidak diiringi pengaturan mobilitas yang jelas. Tanpa kontrol yang ketat, potensi pergeseran konsumsi energi misalnya ke penggunaan listrik rumah tangga, bisa terjadi tanpa benar-benar menekan total pengeluaran.

Aspek pengawasan juga menjadi perhatian. Sistem kerja dari rumah membutuhkan mekanisme kontrol kinerja yang terukur agar tidak menurunkan produktivitas. Tanpa indikator yang jelas, WFH berisiko hanya menjadi kebijakan administratif tanpa dampak nyata.

Di sisi positif, langkah ini menunjukkan adanya upaya pemerintah daerah untuk mencari skema efisiensi anggaran di tengah keterbatasan fiskal. Rencana pengalihan hasil penghematan ke pembangunan jalan juga menjadi poin strategis, mengingat infrastruktur masih menjadi kebutuhan utama di wilayah tersebut.

Namun, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada detail pelaksanaan. Mulai dari kejelasan perhitungan anggaran, kesiapan sistem kerja, hingga pengawasan di lapangan.

Jika tidak dirancang secara matang, WFH berpotensi tidak mencapai target efisiensi yang diharapkan, bahkan membuka celah baru dalam pengelolaan kinerja dan anggaran.

Sebaliknya, jika dijalankan dengan perencanaan yang terukur dan transparan, kebijakan ini bisa menjadi model baru efisiensi birokrasi di daerah.

Kini, perhatian tertuju pada bagaimana pemerintah daerah menerjemahkan rencana tersebut ke dalam kebijakan teknis yang benar-benar bisa diuji efektivitasnya, bukan sekadar asumsi di atas kertas.

( GUNAWAN)

Berita Terkait

Jalan Rusak Belum Tertangani, APBD Trenggalek 2027 Justru Siapkan Belanja Kendaraan Dinas, Laptop, dan Komputer Rp32 Miliar
Bayi Laki-laki Ditemukan Terlantar di Teras Rumah Warga Trenggalek, Polisi Selidiki Pelakunya
Realisasi PAD Diskomidag Trenggalek Baru 29,5 Persen, Wajib Retribusi Diimbau Segera Melunasi Tunggakan
DPRD Trenggalek Dorong Gedung Rawat Inap Jiwa RSUD Soedomo Segera Dibangun
DPC Ormas 212 Trenggalek Resmi Dikukuhkan, Fokus Perkuat Peran Sosial di Tengah Masyarakat
Warga Patungan Beli Tanah Sekolah, Pemkab Trenggalek Kemana? Tanah SDN 1 Sengon Jadi Tanda Tanya Besar
VIRAL! DUGAAN BISNIS LKS DI MIN 1 TRENGGALEK, PLT KEPALA MTSN BELUM BERI KLARIFIKASI
Kasus DBD Menurun, Dinkes Trenggalek Minta Warga Tidak Abaikan Pencegahan

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 15:37 WIB

Jalan Rusak Belum Tertangani, APBD Trenggalek 2027 Justru Siapkan Belanja Kendaraan Dinas, Laptop, dan Komputer Rp32 Miliar

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:07 WIB

Bayi Laki-laki Ditemukan Terlantar di Teras Rumah Warga Trenggalek, Polisi Selidiki Pelakunya

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:25 WIB

Realisasi PAD Diskomidag Trenggalek Baru 29,5 Persen, Wajib Retribusi Diimbau Segera Melunasi Tunggakan

Rabu, 22 Juli 2026 - 23:34 WIB

DPRD Trenggalek Dorong Gedung Rawat Inap Jiwa RSUD Soedomo Segera Dibangun

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:26 WIB

DPC Ormas 212 Trenggalek Resmi Dikukuhkan, Fokus Perkuat Peran Sosial di Tengah Masyarakat

Sabtu, 18 Juli 2026 - 23:33 WIB

Warga Patungan Beli Tanah Sekolah, Pemkab Trenggalek Kemana? Tanah SDN 1 Sengon Jadi Tanda Tanya Besar

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:59 WIB

VIRAL! DUGAAN BISNIS LKS DI MIN 1 TRENGGALEK, PLT KEPALA MTSN BELUM BERI KLARIFIKASI

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:57 WIB

Kasus DBD Menurun, Dinkes Trenggalek Minta Warga Tidak Abaikan Pencegahan

Berita Terbaru