Jakarta – Pemerintah menyiapkan langkah lanjutan penghematan anggaran guna meredam tekanan fiskal akibat gejolak harga energi global. Strategi ini diambil untuk memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di bawah ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa skenario efisiensi difokuskan pada belanja operasional kementerian dan lembaga. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ruang fiskal di tengah ketidakpastian global, terutama dampak konflik geopolitik yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Menurutnya, pemerintah akan melakukan penyisiran anggaran secara menyeluruh, termasuk optimalisasi pola kerja fleksibel seperti Work From Anywhere (WFA) serta evaluasi ulang terhadap tambahan belanja di masing-masing instansi.
Pendekatan tersebut diambil setelah evaluasi menunjukkan masih terbatasnya inisiatif penghematan dari sejumlah lembaga. Pemerintah pun memutuskan mengambil peran lebih aktif dalam mengendalikan belanja agar lebih efisien dan tepat sasaran.
Di sisi lain, langkah penghematan juga berpotensi berasal dari penyesuaian sejumlah program prioritas. Salah satunya terkait program Makan Bergizi Gratis yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional. Program tersebut tengah dievaluasi untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi manfaat utama bagi masyarakat.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan efisiensi ini bukan sinyal adanya tekanan krisis, melainkan langkah antisipatif untuk menjaga kesehatan fiskal nasional.
Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan komitmennya mempertahankan disiplin anggaran, termasuk menjaga batas defisit tetap di bawah 3 persen. Ia menyebut pelonggaran batas tersebut hanya akan ditempuh dalam kondisi luar biasa, seperti krisis besar yang berdampak luas.
Di tengah situasi global yang belum stabil, pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi dan kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan negara. Defisit APBN tahun 2026 diproyeksikan tetap terkendali di kisaran aman, dengan berbagai langkah penyesuaian yang terus dimatangkan.
Sejumlah analis menilai, disiplin fiskal menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional. Tanpa pengendalian yang ketat, lonjakan harga energi dan pelemahan nilai tukar berpotensi memperbesar beban subsidi serta tekanan terhadap anggaran negara.
Dengan strategi efisiensi yang diperluas, pemerintah berharap mampu meredam dampak eksternal sekaligus memastikan program pembangunan tetap berjalan tanpa mengganggu stabilitas fiskal jangka panjang.
(Yon)







