JAKARTA, Lumineerdaily.com – Pemerintah menargetkan penerapan mandatori biodiesel 50 persen atau B50 mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi penguatan ketahanan energi nasional dan pengurangan ketergantungan impor bahan bakar minyak.
Kebijakan ini akan membuat setiap satu liter solar mengandung campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Esters (FAME) atau bahan bakar nabati berbasis minyak sawit.
Langkah tersebut menjadi kelanjutan dari program biodiesel sebelumnya, mulai dari B35 hingga B40, yang telah diterapkan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan harga jual B50 nantinya tetap akan mengikuti formula penetapan harga yang sudah berlaku.
Pemerintah disebut tengah memfinalisasi formula harga dengan berkoordinasi bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
“Kalau mengikuti formula, setiap bulan nanti harga akan kami keluarkan,” kata Eniya saat meninjau Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 di Lembang, Senin (4/5/2026).
Dengan skema tersebut, pemerintah berencana mengumumkan harga patokan B50 secara berkala setiap bulan.
Kebijakan ini dinilai penting untuk memberikan kepastian harga kepada pelaku usaha transportasi, industri, hingga masyarakat pengguna solar.
Selain berdampak pada sektor energi, implementasi B50 juga diproyeksikan memberi efek ekonomi yang cukup besar.
Kementerian ESDM memperkirakan kebijakan ini mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding target penghematan pada program B40 yang diperkirakan mencapai Rp140 triliun.
Penghematan berasal dari berkurangnya kebutuhan impor solar karena sebagian konsumsi digantikan bahan bakar nabati dalam negeri.
Di sisi lain, program ini juga meningkatkan penyerapan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) domestik.
Artinya, industri sawit nasional diperkirakan mendapat tambahan permintaan cukup besar dari sektor energi.
Meski demikian, penerapan B50 juga menimbulkan sejumlah perhatian, terutama terkait kesiapan pasokan bahan baku dan dampaknya terhadap performa mesin kendaraan.
Pemerintah memastikan kebutuhan FAME dinilai masih mencukupi untuk mendukung implementasi awal pada Juli mendatang.
“Kalau prediksi kami, kebutuhan FAME cukup,” ujar Eniya.
Saat ini pemerintah masih melakukan penghitungan kebutuhan hingga akhir tahun, termasuk memetakan potensi pengurangan impor dan tingkat serapan biodiesel nasional.
Program B50 juga hadir di tengah dinamika energi global yang masih berfluktuasi akibat tensi geopolitik dan volatilitas harga minyak dunia.
Karena itu, diversifikasi energi berbasis sumber domestik dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Bagi masyarakat, perhatian utama tetap tertuju pada satu hal: apakah kebijakan B50 akan membuat harga solar berubah atau tetap terkendali.
Pemerintah belum mengumumkan detail harga resmi, namun memastikan formula penetapan akan diumumkan sebelum implementasi berjalan.
Dengan waktu kurang dari dua bulan menuju penerapan, kebijakan B50 diperkirakan menjadi salah satu agenda energi nasional yang paling banyak disorot sepanjang pertengahan 2026.
(Yon)













