Mulai Juli 2026, Solar Bakal Berubah Jadi B50, Bagaimana Dampaknya ke Harga BBM?

- Pewarta

Sabtu, 9 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah menargetkan penerapan B50 mulai Juli 2026 sebagai upaya menekan impor solar dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Pemerintah menargetkan penerapan B50 mulai Juli 2026 sebagai upaya menekan impor solar dan memperkuat ketahanan energi nasional.

JAKARTA, Lumineerdaily.com – Pemerintah menargetkan penerapan mandatori biodiesel 50 persen atau B50 mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi penguatan ketahanan energi nasional dan pengurangan ketergantungan impor bahan bakar minyak.

Kebijakan ini akan membuat setiap satu liter solar mengandung campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Esters (FAME) atau bahan bakar nabati berbasis minyak sawit.

Langkah tersebut menjadi kelanjutan dari program biodiesel sebelumnya, mulai dari B35 hingga B40, yang telah diterapkan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan harga jual B50 nantinya tetap akan mengikuti formula penetapan harga yang sudah berlaku.

Pemerintah disebut tengah memfinalisasi formula harga dengan berkoordinasi bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

“Kalau mengikuti formula, setiap bulan nanti harga akan kami keluarkan,” kata Eniya saat meninjau Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 di Lembang, Senin (4/5/2026).

Dengan skema tersebut, pemerintah berencana mengumumkan harga patokan B50 secara berkala setiap bulan.

Kebijakan ini dinilai penting untuk memberikan kepastian harga kepada pelaku usaha transportasi, industri, hingga masyarakat pengguna solar.

Selain berdampak pada sektor energi, implementasi B50 juga diproyeksikan memberi efek ekonomi yang cukup besar.

Kementerian ESDM memperkirakan kebijakan ini mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang 2026.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding target penghematan pada program B40 yang diperkirakan mencapai Rp140 triliun.

Penghematan berasal dari berkurangnya kebutuhan impor solar karena sebagian konsumsi digantikan bahan bakar nabati dalam negeri.

Di sisi lain, program ini juga meningkatkan penyerapan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) domestik.

Artinya, industri sawit nasional diperkirakan mendapat tambahan permintaan cukup besar dari sektor energi.

Meski demikian, penerapan B50 juga menimbulkan sejumlah perhatian, terutama terkait kesiapan pasokan bahan baku dan dampaknya terhadap performa mesin kendaraan.

Pemerintah memastikan kebutuhan FAME dinilai masih mencukupi untuk mendukung implementasi awal pada Juli mendatang.

“Kalau prediksi kami, kebutuhan FAME cukup,” ujar Eniya.

Saat ini pemerintah masih melakukan penghitungan kebutuhan hingga akhir tahun, termasuk memetakan potensi pengurangan impor dan tingkat serapan biodiesel nasional.

Program B50 juga hadir di tengah dinamika energi global yang masih berfluktuasi akibat tensi geopolitik dan volatilitas harga minyak dunia.

Karena itu, diversifikasi energi berbasis sumber domestik dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Bagi masyarakat, perhatian utama tetap tertuju pada satu hal: apakah kebijakan B50 akan membuat harga solar berubah atau tetap terkendali.

Pemerintah belum mengumumkan detail harga resmi, namun memastikan formula penetapan akan diumumkan sebelum implementasi berjalan.

Dengan waktu kurang dari dua bulan menuju penerapan, kebijakan B50 diperkirakan menjadi salah satu agenda energi nasional yang paling banyak disorot sepanjang pertengahan 2026.

(Yon)

Berita Terkait

BGN Dorong Kampus Kelola Dapur MBG Mandiri, Dinilai Bisa Jadi Pusat Ekosistem Pangan
Menteri ESDM: Stok Energi Nasional Aman, Pemerintah Cari Cara Kurangi Impor LPG
Dorong Kendaraan Listrik, Mendagri Instruksikan Gubernur Beri Insentif Pajak hingga Nol Persen
Link dan Syarat Daftar Koperasi Merah Putih 2026, Ribuan Lowongan Resmi Dibuka
TNI–Polri & Wartawan Dapat Rumah Subsidi
1.000 Rumah Subsidi untuk Pegawai Dapur MBG Disiapkan, Skema Ringan Jadi Andalan Pemerintah
Cicil Emas Makin Mudah dari Genggaman, BRI–Pegadaian Gaspol Dorong Investasi Digital Rakyat
Bayar UTBK SNBT Kini Bisa dari HP, BRI Dorong Generasi Muda Masuk Ekosistem Digital
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 02:21 WIB

Mulai Juli 2026, Solar Bakal Berubah Jadi B50, Bagaimana Dampaknya ke Harga BBM?

Rabu, 29 April 2026 - 18:54 WIB

BGN Dorong Kampus Kelola Dapur MBG Mandiri, Dinilai Bisa Jadi Pusat Ekosistem Pangan

Senin, 27 April 2026 - 19:33 WIB

Menteri ESDM: Stok Energi Nasional Aman, Pemerintah Cari Cara Kurangi Impor LPG

Kamis, 23 April 2026 - 20:22 WIB

Dorong Kendaraan Listrik, Mendagri Instruksikan Gubernur Beri Insentif Pajak hingga Nol Persen

Rabu, 22 April 2026 - 23:19 WIB

Link dan Syarat Daftar Koperasi Merah Putih 2026, Ribuan Lowongan Resmi Dibuka

Minggu, 19 April 2026 - 22:08 WIB

TNI–Polri & Wartawan Dapat Rumah Subsidi

Minggu, 19 April 2026 - 21:49 WIB

1.000 Rumah Subsidi untuk Pegawai Dapur MBG Disiapkan, Skema Ringan Jadi Andalan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 - 09:15 WIB

Cicil Emas Makin Mudah dari Genggaman, BRI–Pegadaian Gaspol Dorong Investasi Digital Rakyat

Berita Terbaru

Foto: Raker Komisi IV DPRD Trenggalek dan manajemen RSUD Dr. Soedomo, Rabu (20/5/2026).

Trenggalek

DPRD Trenggalek Kritik Pelayanan RSUD dan Aturan BPJS

Rabu, 20 Mei 2026 - 20:00 WIB