JAKARTA – Duel Crystal Palace kontra Tottenham Hotspur di Selhurst Park, Minggu malam waktu setempat, bukan sekadar pertemuan dua rival sekota. Laga ini menjadi ajang pertaruhan momentum bagi dua tim yang sama-sama sedang mencari jalan keluar dari tren negatif di Premier League.
Crystal Palace memasuki pertandingan dengan beban mental usai tersingkir dari ajang piala lewat drama adu penalti. Namun di balik performa yang menurun, The Eagles masih menyimpan modal psikologis penting: konsistensi menutup kalender kompetisi dengan kemenangan. Dalam beberapa musim terakhir, Palace kerap menjadikan laga akhir tahun sebagai titik balik, dan tradisi itu kembali diharapkan hidup di hadapan publik Selhurst Park.
Di sisi lain, Tottenham datang dengan persoalan yang tak kalah pelik. Performa tandang Spurs menjadi sorotan utama setelah serangkaian hasil buruk membuat mereka sulit bersaing di papan atas. Kebobolan yang tinggi dan rapuhnya koordinasi lini belakang membuat setiap lawatan terasa seperti ujian berat, terlebih menghadapi lawan yang punya memori manis atas Spurs musim lalu.
Pertandingan ini juga menyorot kedalaman skuad kedua tim. Palace masih berjibaku dengan persoalan kebugaran, namun tetap menggantungkan harapan pada produktivitas penyerang utamanya. Tottenham pun harus memutar otak akibat absennya sejumlah pemain kunci, memaksa pelatih meramu ulang keseimbangan tim dengan opsi yang terbatas.
Dengan latar belakang tersebut, derby London ini diperkirakan berlangsung terbuka dan sarat tensi. Palace mengincar kebangkitan sekaligus menjaga tradisi positif akhir tahun, sementara Tottenham berusaha memutus rantai kegagalan tandang yang kian membebani. Di atas kertas, laga ini lebih dari sekadar perebutan tiga poin—ia adalah ujian mental, konsistensi, dan arah perjalanan kedua tim memasuki fase berikutnya musim ini.
(gn/yon).







