Trenggalek – Menjelang Bulan Suci Ramadhan, Pemerintah Kabupaten Trenggalek memilih jalur komunikasi terbuka ketimbang pendekatan represif. Dalam sebuah pertemuan lintas unsur di Gedung Bawarasa, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin duduk satu meja bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, tokoh agama, perwakilan perguruan silat, hingga organisasi kemasyarakatan.
Forum itu bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Dari diskusi yang berlangsung, terlihat ada kekhawatiran bersama terhadap potensi gesekan sosial yang kerap muncul saat Ramadhan—mulai dari aktivitas malam hari hingga tradisi yang melibatkan massa dalam jumlah besar.
Bupati yang akrab disapa Mas Ipin menekankan bahwa pemerintah daerah tidak sedang membatasi ekspresi budaya masyarakat. Namun ia menggarisbawahi satu hal: kebebasan harus berjalan seiring tanggung jawab. Menurutnya, menjaga ketertiban bukan hanya tugas aparat, melainkan kesadaran kolektif.
Isu balon udara dan petasan kembali mengemuka dalam forum tersebut. Beberapa tahun terakhir, dua hal itu kerap memicu persoalan, dari kebakaran hingga gangguan keselamatan penerbangan. Pemerintah daerah mengingatkan agar tradisi tetap dijalankan dengan memperhitungkan risiko.
Selain itu, kegiatan ronda sahur juga menjadi pembahasan. Aktivitas membangunkan warga untuk makan sahur dinilai positif sebagai bagian dari semangat kebersamaan. Namun penggunaan pengeras suara berlebihan dinilai bisa menimbulkan ketegangan baru di tengah masyarakat yang heterogen.
Dari sudut pandang pemerintah daerah, Ramadhan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga ujian kedewasaan sosial. Koordinasi antara aparat keamanan dan elemen masyarakat dipandang penting untuk mencegah potensi konflik sejak dini.
Langkah yang ditempuh Pemkab Trenggalek kali ini lebih menitikberatkan pada pencegahan dibanding penindakan. Pendekatan dialog dianggap lebih efektif meredam gesekan sebelum membesar.
Dengan pola komunikasi seperti ini, pemerintah daerah berharap suasana Ramadhan di Trenggalek berjalan aman tanpa harus diwarnai pembatasan berlebihan. Bagi sebagian kalangan, pilihan ini menjadi sinyal bahwa stabilitas daerah tidak cukup dijaga dengan aturan, tetapi juga dengan kesadaran bersama.
(gun)







