Trenggalek – Ratusan tukang becak lanjut usia di Kabupaten Trenggalek kini tak lagi harus mengandalkan tenaga fisik sepenuhnya untuk mencari nafkah. Kehadiran becak listrik mulai mengubah pola kerja mereka, dari aktivitas yang berat menjadi lebih ramah usia dan berkelanjutan.
Sebanyak 200 unit becak listrik disalurkan kepada tukang becak lansia sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi berbasis kemanusiaan yang digagas Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto. Program ini menempatkan lansia bukan sebagai kelompok pasif penerima bantuan, melainkan sebagai pelaku ekonomi yang tetap produktif di usia senja.
Penyerahan dilakukan di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Minggu (11/1/2026), dengan melibatkan Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).
Mengurangi Beban, Menjaga Martabat
Berbeda dari bantuan bersifat konsumtif, becak listrik diposisikan sebagai alat kerja jangka panjang. Dengan sistem penggerak listrik, tukang becak tidak lagi dipaksa memeras tenaga saat membawa penumpang, terutama di medan menanjak atau jarak jauh.
Perwakilan Yayasan GSN, Nanik S. Deyang, menyampaikan bahwa program ini lahir dari keprihatinan atas realitas sosial di lapangan.
“Masih banyak lansia yang harus bekerja keras di jalan. Becak listrik ini dirancang agar mereka tetap bisa bekerja tanpa mengorbankan kesehatan,” ujarnya.
Menurut Nanik, Trenggalek menjadi salah satu daerah prioritas karena masih banyak tukang becak berusia di atas 60 tahun yang menggantungkan hidup dari sektor informal.
Infrastruktur Pendukung Disiapkan
Agar bantuan benar-benar fungsional, aspek teknis juga diperhitungkan. Becak listrik tersebut menggunakan daya rendah sehingga bisa diisi ulang di berbagai fasilitas publik.
Pemerintah daerah turut berperan menyediakan titik pengisian baterai di kantor kecamatan maupun fasilitas pemerintahan lainnya. Langkah ini dinilai penting agar penerima tidak terbebani biaya tambahan.
Pengawasan Jadi Kunci Keberlanjutan
Program ini juga disertai pengawasan ketat agar aset tidak disalahgunakan. Yayasan GSN menegaskan pentingnya pendampingan agar becak listrik tetap digunakan sesuai tujuan awal, bukan diperjualbelikan.
Pemerintah daerah pun mengingatkan bahwa keberlanjutan bantuan sangat bergantung pada kedisiplinan penerima dalam menjaga dan merawat aset tersebut.
Lansia Merasakan Perubahan Nyata
Bagi para penerima, becak listrik bukan sekadar alat baru, tetapi simbol perubahan hidup. Ahmad (70), salah satu tukang becak penerima manfaat, mengaku kini bisa bekerja lebih lama tanpa kelelahan berlebih.
“Sekarang badan tidak cepat capek. Saya masih bisa cari nafkah tanpa memaksakan tenaga,” katanya.
Model Bantuan Sosial Baru
Program becak listrik dinilai menjadi contoh pendekatan baru bantuan sosial, yang tidak hanya memberi, tetapi juga menguatkan kemandirian ekonomi. Dengan fokus pada lansia, program ini sekaligus menjawab tantangan penuaan penduduk di sektor informal.

Ke depan, penyaluran becak listrik direncanakan berlanjut berdasarkan pendataan kebutuhan daerah, dengan prioritas tetap pada kelompok usia lanjut yang masih aktif bekerja.
(gun).







