Istambul – Operasi militer besar yang dilancarkan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dilaporkan telah menghabiskan dana yang sangat besar hanya dalam waktu singkat. Sejumlah lembaga riset dan analisis pertahanan memperkirakan total pengeluaran militer Washington selama sekitar empat hari pertama operasi telah mencapai miliaran dolar AS.
Berdasarkan sejumlah perhitungan yang dihimpun dari berbagai sumber analisis militer, pengeluaran Amerika Serikat dalam sekitar 100 jam pertama operasi diperkirakan menembus lebih dari 5 miliar dolar AS. Angka tersebut mencakup biaya operasi tempur, penggunaan persenjataan canggih, hingga kerugian aset militer akibat serangan balasan dari Iran.
Pada hari pertama operasi, biaya militer yang dikeluarkan diperkirakan mendekati 800 juta dolar AS. Pengeluaran tersebut berasal dari aktivitas penerbangan tempur, peluncuran rudal presisi tinggi, mobilisasi kapal perang, serta operasional pasukan di sejumlah pangkalan militer di kawasan Teluk.
Seiring meningkatnya intensitas serangan, biaya operasi terus bertambah. Lembaga kajian pertahanan internasional memperkirakan bahwa sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk pengisian ulang amunisi canggih, logistik militer, serta pengoperasian sistem persenjataan berteknologi tinggi.
Selain pengeluaran operasional, Amerika Serikat juga dilaporkan mengalami kerugian material akibat serangan balasan Iran terhadap beberapa instalasi militer di kawasan Timur Tengah. Nilai kerugian aset militer yang rusak atau hancur diperkirakan mencapai lebih dari 2 miliar dolar AS.
Beberapa fasilitas militer dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal dan drone, termasuk instalasi radar peringatan dini serta fasilitas komunikasi militer yang berfungsi sebagai pusat pengendali operasi di kawasan Teluk.
Di sisi lain, sejumlah pesawat tempur dan drone militer juga dilaporkan hilang selama konflik berlangsung. Kerugian tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS, mengingat nilai satu unit pesawat tempur maupun drone tempur modern yang sangat tinggi.
Serangan terhadap fasilitas komunikasi satelit serta sistem radar juga menambah daftar kerugian yang harus ditanggung oleh militer Amerika Serikat. Beberapa laporan analisis citra satelit bahkan menunjukkan kerusakan pada sejumlah instalasi militer penting di kawasan tersebut.
Sementara itu, penggunaan sistem pertahanan udara Amerika Serikat juga meningkat tajam selama konflik berlangsung. Militer AS dilaporkan menembakkan ratusan rudal pencegat dari berbagai sistem pertahanan, termasuk sistem pertahanan berbasis kapal perang dan baterai pertahanan darat yang ditempatkan di beberapa negara sekutu.
Biaya operasional armada laut Amerika Serikat di kawasan juga tidak kecil. Dua kapal induk yang dikerahkan bersama kelompok tempurnya dilaporkan membutuhkan dana operasional jutaan dolar setiap hari, termasuk untuk bahan bakar, logistik, serta operasional pesawat tempur yang berbasis di kapal.
Para analis militer menilai bahwa jika operasi berskala besar ini terus berlanjut, pengeluaran militer Amerika Serikat berpotensi meningkat jauh lebih besar. Selain biaya tempur langsung, Washington juga harus menyiapkan anggaran tambahan untuk mengganti peralatan militer yang rusak serta mengisi kembali stok persenjataan yang telah digunakan selama operasi berlangsung.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik bersenjata modern tidak hanya berdampak pada stabilitas geopolitik, tetapi juga membawa konsekuensi ekonomi yang sangat besar bagi negara-negara yang terlibat di dalamnya.
Sumber: Anadolu





