Lumineerdaily.com – Israel kembali melancarkan serangkaian serangan di wilayah Lebanon selatan di tengah kesepakatan penghentian sementara konflik yang sebelumnya diumumkan kedua pihak.
Gelombang serangan terbaru pada Sabtu menambah daftar korban jiwa dan memperburuk situasi keamanan di kawasan perbatasan Lebanon-Israel yang hingga kini masih memanas.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 10 orang meninggal dunia dalam serangan terbaru tersebut.
Secara keseluruhan, jumlah korban dalam 24 jam terakhir disebut mencapai 41 orang.
Sementara sejak konflik terbaru antara Israel dan kelompok Hizbullah pecah pada awal Maret 2026, jumlah korban tewas di Lebanon dilaporkan mencapai lebih dari 2.600 orang, dengan ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Media pemerintah Lebanon melaporkan sejumlah titik di wilayah selatan menjadi sasaran serangan udara, termasuk distrik Nabatieh dan sekitarnya.
Beberapa serangan dilaporkan mengenai kendaraan serta bangunan permukiman di sejumlah desa.
Kondisi ini membuat situasi di Lebanon selatan semakin tidak menentu, terutama bagi warga sipil yang masih bertahan di kawasan terdampak.
Lebih dari satu juta warga Lebanon juga dilaporkan telah mengungsi sejak konflik kembali meningkat.
Kesepakatan penghentian sementara konflik yang mulai berlaku pada pertengahan April sebelumnya diharapkan mampu meredakan ketegangan.
Namun di lapangan, bentrokan dan serangan lintas perbatasan masih terus terjadi.
Israel menyatakan operasi militernya menargetkan posisi dan infrastruktur milik Hizbullah di Lebanon selatan.
Di sisi lain, Hizbullah menegaskan tetap melanjutkan serangan terhadap pasukan Israel di wilayah perbatasan.
Kelompok tersebut mengklaim melakukan sejumlah serangan menggunakan artileri, drone, dan serangan terhadap kendaraan militer Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, konflik juga ditandai penggunaan drone kecil yang disebut digunakan untuk menyerang kendaraan tempur di area garis depan.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional di Timur Tengah.
Konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah meningkat setelah ketegangan kawasan memburuk menyusul perang yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Sejak saat itu, wilayah perbatasan Lebanon-Israel menjadi salah satu titik paling aktif dalam eskalasi militer regional.
Sejumlah pihak internasional mendesak penghentian serangan dan perlindungan warga sipil.
Perwakilan China di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kondisi saat ini belum menunjukkan penghentian konflik yang sesungguhnya.
Menurutnya, situasi di lapangan masih menunjukkan aktivitas militer yang terus berlangsung.
Sementara itu, tekanan politik juga meningkat di dalam negeri Israel terkait kelanjutan operasi militer.
Perdebatan muncul antara kelompok yang mendukung operasi lanjutan dan pihak yang menginginkan penurunan eskalasi konflik.
Hingga kini belum ada kepastian apakah kesepakatan penghentian sementara konflik akan benar-benar berjalan efektif atau justru kembali runtuh di tengah meningkatnya intensitas serangan kedua pihak.
Penulis: Tim Redaksi
Sumber: Al Jazeera













