Lumineerdaily.com – Serangan udara Israel kembali mengguncang wilayah Lebanon selatan dan menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk seorang petugas pertahanan sipil, di tengah situasi gencatan senjata yang belum sepenuhnya stabil.
Informasi tersebut disampaikan otoritas Lebanon pada Jumat (8/5/2026), setelah serangkaian serangan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah seperti Tyre, Nabatieh, Bint Jbeil, hingga Sidon.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut empat orang tewas dalam serangan udara di Kota Toura, Distrik Tyre, termasuk dua perempuan. Delapan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Serangan itu menyebabkan kerusakan bangunan dan memicu operasi pencarian korban di bawah reruntuhan.
Media pemerintah Lebanon melaporkan tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap seorang anak perempuan yang dinyatakan hilang usai serangan.
Di lokasi lain, tim Palang Merah Lebanon juga menemukan dua jenazah warga yang sebelumnya dilaporkan hilang setelah serangan udara pada Kamis di wilayah Blat, Distrik Marjayoun.
Selain serangan udara, sebuah drone militer Israel dilaporkan menyerang kendaraan di jalan penghubung Kfarchuba dan Kfarhamam, Distrik Hasbaya.
Serangan tersebut menewaskan seorang anggota pertahanan sipil Lebanon.
Militer Israel melalui juru bicara berbahasa Arab, Avichay Adraee, mengeluarkan peringatan evakuasi bagi sejumlah wilayah di Lebanon selatan.
Penduduk di beberapa kota dan desa diminta meninggalkan area menyusul operasi militer yang disebut masih berlangsung.
Situasi ini memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada pertengahan April lalu.
Meski kesepakatan telah diumumkan, bentrokan sporadis dan saling serang antara Israel dan Hizbullah terus terjadi.
Militer Israel menyebut serangan drone dari Hizbullah melukai sejumlah tentaranya di wilayah utara Israel dan area perbatasan selatan Lebanon.
Sementara Hizbullah mengklaim telah melancarkan beberapa serangan terhadap posisi militer Israel sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata.
Kelompok tersebut mengaku menargetkan pangkalan militer, kendaraan tempur, serta personel Israel di beberapa titik.
Aktivitas militer yang kembali meningkat memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan penghentian konflik hanya berlangsung di atas kertas.
Dalam 24 jam terakhir, intensitas serangan udara dan artileri dilaporkan meningkat di kawasan pesisir Lebanon selatan.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sejak konflik kembali memanas pada 2 Maret, sedikitnya 2.759 orang tewas dan lebih dari 8.500 lainnya terluka.
Di tengah situasi keamanan yang memburuk, pemerintah Lebanon dijadwalkan melanjutkan negosiasi tahap kedua dengan Israel di Washington pada 14-15 Mei mendatang.
Delegasi Lebanon dipimpin diplomat senior Simon Karam.
Halaman : 1 2 Selanjutnya













