TRENGGALEK, lumineerdaily.com – Kerusakan ruas jalan Ngares–Sengon di Kabupaten Trenggalek kembali memicu protes warga. Jalan penghubung sepanjang sekitar 10 kilometer itu dinilai semakin memburuk dan mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari, mulai dari distribusi hasil pertanian hingga akses pendidikan.
Keluhan tersebut disampaikan Forum Aliansi Masyarakat Trenggalek Bergerak (FAMTB) dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPRD Trenggalek, Jumat (22/5/2026).
Perwakilan warga meminta pemerintah daerah segera melakukan perbaikan menyeluruh karena kondisi jalan dinilai sudah lama tidak mendapatkan penanganan maksimal.
Koordinator FAMTB, Ali Roisudin, mengatakan masyarakat sudah terlalu lama menunggu realisasi perbaikan jalan yang menjadi akses utama warga Desa Ngares dan Desa Sengon.
“Jalan ini dipakai masyarakat setiap hari. Aktivitas warga, angkutan hasil pertanian, sampai anak sekolah semuanya lewat sini,” kata Ali dalam forum tersebut.
Menurut dia, kerusakan jalan tidak hanya membuat perjalanan lebih lambat, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan dan biaya transportasi warga.
Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan dua persoalan utama yang diduga mempercepat kerusakan jalan.
Pertama, tingginya intensitas kendaraan bertonase berat, terutama truk tambang, yang melintas setiap hari.
Kedua, kondisi drainase di sejumlah titik yang dinilai tidak berfungsi optimal setelah adanya pemasangan saluran perpipaan.
Akibatnya, air kerap menggenang di badan jalan dan mempercepat kerusakan aspal maupun rabat beton.
Warga menyebut sebagian ruas di Desa Sengon terakhir kali mendapat pelapisan aspal sekitar tahun 2010, sedangkan beberapa titik di wilayah Ngares terakhir diperbaiki pada 2016.
Sejak saat itu, kerusakan disebut terus meluas tanpa penanganan besar.
Komisi III DPRD Trenggalek mengakui kondisi jalan tersebut memang membutuhkan perhatian serius.
Dalam rapat itu, DPRD menyampaikan rencana penanganan bertahap, mulai dari pemeliharaan sementara hingga usulan perbaikan menyeluruh pada tahun anggaran berikutnya.
Untuk jangka pendek, pemerintah daerah disebut akan mengupayakan perbaikan darurat agar jalan tetap dapat dilalui masyarakat.
Sementara untuk jangka panjang, ruas Prambon–Sengon–Ngares masuk pembahasan program peningkatan infrastruktur secara bertahap.
Ali mengatakan warga akan terus mengawal realisasi janji tersebut.
Menurutnya, masyarakat tidak ingin persoalan jalan hanya berhenti di forum rapat tanpa tindak lanjut nyata di lapangan.
“Kami berharap ada tindakan yang benar-benar dirasakan masyarakat, bukan sekadar pembahasan,” ujarnya.
Kerusakan jalan Ngares–Sengon selama ini menjadi salah satu keluhan utama warga di wilayah tersebut karena jalur itu memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi dan mobilitas harian masyarakat.
Selain sebagai akses antarwilayah, jalan tersebut juga menjadi jalur distribusi hasil pertanian dan penghubung menuju sejumlah fasilitas layanan publik.
Dengan adanya tuntutan warga dan perhatian DPRD, masyarakat kini menunggu langkah konkret pemerintah daerah dalam memperbaiki infrastruktur yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan di kawasan tersebut. (gun)













