JAKARTA, lumineerdaily.com – Kalau ada yang bilang hidup itu penuh kejutan, mungkin Sony Sonjaya sedang menjadi salah satu contohnya.
Belum lama ini ia masih duduk di kursi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), ikut mengurus Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Kini, namanya justru muncul dalam daftar tersangka kasus yang berkaitan dengan program tersebut.
Perjalanan Sony sebenarnya tidak dimulai dari BGN.
Pria kelahiran Bandung itu merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1991. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di institusi Polri. Jabatan demi jabatan pernah ia tempati. Dari daerah hingga pusat, dari urusan operasional hingga posisi yang berkaitan dengan penegakan hukum.
Pendeknya, Sony bukan orang baru dalam urusan mencari pelaku kejahatan.
Setelah pensiun dari kepolisian, ia tidak memilih menikmati masa tua sambil memelihara burung atau merawat tanaman di halaman rumah. Ia justru masuk ke BGN yang saat itu sedang menjadi salah satu lembaga paling sibuk karena mengurus program unggulan pemerintah.
Kariernya di sana melaju cukup cepat.
Dari direktur, ketua tim verifikasi, lalu naik menjadi Wakil Kepala BGN.
Saat itu tidak sedikit yang melihatnya sebagai sosok dengan karier lengkap. Mantan jenderal polisi, pejabat nasional, sekaligus orang penting dalam program yang menyentuh jutaan anak Indonesia.
Namun roda kehidupan kadang berputar lebih cepat daripada berita di media sosial.
Pada 2 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto mencopot Sony dari jabatannya.
Pencopotan pejabat sebenarnya bukan hal yang aneh. Banyak pejabat datang dan pergi tanpa meninggalkan cerita panjang.
Masalahnya, cerita Sony justru baru dimulai setelah itu.
Belum genap sehari setelah dicopot, Kejaksaan Agung menetapkannya sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis.
Dari sinilah alur cerita berubah.
Yang semula terlihat seperti pergantian pejabat biasa mendadak menjadi kisah yang membuat banyak orang terus mengikuti perkembangannya.
Ketika penyidik bergerak mencari para tersangka, dua nama lain berhasil ditemukan tanpa banyak kendala.
Alamat jelas.
Orang ada.
Pekerjaan selesai.
Namun ketika giliran Sony, situasinya berbeda.
Rumahnya ada.
Tetapi orang yang dicari tidak berada di tempat.
Keberadaannya sempat tidak diketahui hingga akhirnya penyidik menemukan Sony di sebuah hotel di Jawa Barat.
Bagian ini yang membuat banyak orang menggelengkan kepala.
Selama puluhan tahun menjadi polisi, Sony kemungkinan pernah ikut mengejar banyak buronan.
Kini keadaan berbalik.
Orang yang dulu terbiasa mencari, justru menjadi orang yang dicari.
Kalau hidup adalah film, bagian ini mungkin membuat penonton berhenti sejenak lalu berkata, “Lho, kok bisa begini?”
Tak lama kemudian Sony berhasil diamankan dan dibawa untuk menjalani pemeriksaan.
Kasus yang menyeret namanya sendiri berkaitan dengan dugaan jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta dugaan keterlibatan sejumlah yayasan yang disebut memiliki hubungan dengan pihak tertentu.
Istilah “jual beli titik” mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang.
Sepintas seperti transaksi lokasi di aplikasi peta digital.
Padahal yang sedang dipersoalkan penyidik tentu bukan soal koordinat jalan, melainkan dugaan praktik yang berkaitan dengan pengelolaan program pemerintah.
Belum selesai sampai di situ.
Perbincangan kemudian merembet ke laporan harta kekayaan Sony.
Dalam LHKPN tahun 2025, total kekayaannya tercatat sekitar Rp906 juta.
Setahun kemudian angkanya melonjak menjadi sekitar Rp12,9 miliar.
Kenaikan lebih dari Rp12 miliar dalam waktu yang relatif singkat itu membuat banyak orang ikut bertanya-tanya.
Bagi masyarakat yang masih berjuang menabung untuk membeli motor, membayar cicilan rumah, atau sekadar mengejar kenaikan gaji tahunan, angka tersebut tentu bukan angka yang biasa.
Cerita ini semakin ramai karena sebelum penetapan tersangka diumumkan, Sony sempat tampil dalam sebuah podcast.
Dalam kesempatan itu ia membantah berbagai tuduhan yang beredar dan menegaskan dirinya tidak terlibat.
Namun beberapa jam kemudian keadaan berubah.
Statusnya bergeser dari pejabat aktif menjadi tersangka.
Dari ruang rapat ke ruang pemeriksaan.
Dari mengurus program nasional menjadi menghadapi penyidikan.
Kini proses hukum masih berjalan dan semua fakta akan diuji di pengadilan.
Namun satu hal yang sulit dibantah, kisah Sony Sonjaya telah menjadi salah satu bab paling menarik dalam perjalanan kasus MBG.
Karena pada akhirnya, jabatan tinggi tidak selalu mampu menjaga seseorang dari masalah.
Pangkat besar juga bukan jaminan semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Dan hidup kadang memiliki cara yang unik untuk mengingatkan bahwa nasib bisa berubah jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan. (yon)













