Bupati Trenggalek Muchammad Arifin: Nasionalisme dan Religiusitas Bisa Bersanding, Bung Karno Telah Mencontohkannya

- Pewarta

Jumat, 24 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Di tengah peringatan Hari Santri 2025, Bupati Trenggalek Muchammad Arifin menegaskan bahwa nasionalisme dan religiusitas bukanlah dua kutub yang berseberangan. Keduanya, kata Arifin, justru bisa bersatu menjadi kekuatan moral dan sosial yang membangun bangsa — sebagaimana dicontohkan oleh Bung Karno.

Hal itu ia sampaikan dalam Diskusi Hari Santri di Sekolah Partai PDI Perjuangan (PDIP), Jakarta Selatan, Rabu (22/10/2025).

“Nasionalisme dan Islam itu tidak perlu dipertentangkan. Keduanya adalah kekuatan besar yang, bila bersatu, bisa membuat bangsa ini maju dan berdaulat,” ujar Arifin di hadapan para peserta diskusi.

Arifin bercerita, sebelum menulis buku tentang ajaran Bung Karno, dirinya sempat sowan ke sejumlah kiai untuk memahami sisi spiritual sang proklamator. Dari Romo Kiai Husen Ilyas, pengasuh Ponpes Al-Misbar Mojokerto, Arifin mendengar kisah Bung Karno muda yang ternyata sering tinggal di rumah sang kiai dan rajin membaca Al-Qur’an selepas Magrib.

“Suaranya Bung Karno waktu baca Al-Qur’an enak,” tutur Arifin menirukan perkataan Romo Kiai Husen.

Cerita itu, kata Arifin, meneguhkan pandangannya bahwa perjuangan Bung Karno tak lepas dari nilai-nilai Islam yang menuntun manusia untuk merdeka, berdaulat, dan berkeadilan.

Menurut Arifin, ajaran Bung Karno tentang politik menuntut, bukan meminta, merupakan wujud Islam progresif yang mendorong umat untuk bangkit dan memperjuangkan keadilan sosial. Ia juga mengaitkan visi “merawat pertiwi” yang digaungkan Megawati Soekarnoputri dengan ajaran Islam tentang khalifah fil ardh — manusia sebagai penjaga bumi.

“Ini bukan hanya soal pertahanan dari perang, tapi juga tanggung jawab kita terhadap krisis iklim yang juga menjadi perhatian Ibu Megawati,” jelasnya.

Sebagai pemimpin daerah, Arifin mencoba menerjemahkan nilai itu dalam kebijakan nyata. Di Trenggalek, ia melibatkan santri dan anak muda dalam pembangunan lewat Festival Gagasan, sebuah ruang kreatif yang menampung ide-ide inovatif masyarakat.

“Santri Muhammadiyah punya bank sampah, diuji oleh panelis, dan kalau lolos, program itu langsung dibiayai APBD. Itu jadi bagian dari 10 program prioritas kabupaten,” kata Arifin.

Diskusi semakin menarik saat tokoh-tokoh muda turut menyampaikan pandangan. Ketua Umum Kopri PB PMII, Wulansari, menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang berakar pada ilmu dan nilai kebangsaan.

“Ciri seorang santri itu mengabdi pada ilmu. Kita lebih mudah takjub pada orang berkelas karena keilmuannya, bukan sekadar statusnya,” ucapnya.

Sementara Hawra Tustari, pilot muda berprestasi internasional, menyoroti sikap realistis generasi muda terhadap politik.

“Anak muda bukan apatis, tapi realistis. Kita tahu sistemnya masih gitu-gitu aja. Tapi bukan berarti kita berhenti berharap,” kata Hawra.

Hawra berharap semangat “go internasional” generasi muda tak membuat mereka lupa untuk kembali dan membangun Indonesia.

“Kita boleh terbang tinggi, tapi pijakan kita tetap di tanah air sendiri,” tuturnya.

Dengan pendekatan yang memadukan ajaran Bung Karno dan nilai Islam, Arifin menunjukkan bahwa nasionalisme dan religiusitas bisa bersanding harmonis — menjadi fondasi kuat bagi bangsa yang berkeadilan dan berdaulat.,

Berita Terkait

51 Biksu Jalan Kaki Lintas Negara Akan Singgah di Nganjuk, Bawa Pesan Perdamaian Menuju Waisak 2026
Ponorogo Tunda Rekrutmen ASN hingga 2027, Fokus Tekan Belanja Pegawai
Tradisi Methik Pari di Glinggang Ponorogo Jadi Wujud Syukur Petani Jelang Panen
Jawa Timur Target Pertahankan Produksi Gabah 10,4 Juta Ton, Ponorogo Jadi Salah Satu Penopang Utama
Bea Cukai Pasuruan Musnahkan Jutaan Rokok Ilegal, Nilai Barang Capai Rp6,39 Miliar
Pemkab Bangkalan Libatkan Kader Posyandu untuk Validasi Data Penerima Program Makan Bergizi Gratis
539 Jamaah Calon Haji Asal Magetan Diberangkatkan, Suasana Haru Iringi Pelepasan di GOR Ki Mageti
Kekosongan Kepala Sekolah di Ponorogo, Ratusan Guru Ditunjuk Isi Jabatan

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 18:43 WIB

51 Biksu Jalan Kaki Lintas Negara Akan Singgah di Nganjuk, Bawa Pesan Perdamaian Menuju Waisak 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 00:37 WIB

Ponorogo Tunda Rekrutmen ASN hingga 2027, Fokus Tekan Belanja Pegawai

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:28 WIB

Tradisi Methik Pari di Glinggang Ponorogo Jadi Wujud Syukur Petani Jelang Panen

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:18 WIB

Jawa Timur Target Pertahankan Produksi Gabah 10,4 Juta Ton, Ponorogo Jadi Salah Satu Penopang Utama

Senin, 27 April 2026 - 19:24 WIB

Bea Cukai Pasuruan Musnahkan Jutaan Rokok Ilegal, Nilai Barang Capai Rp6,39 Miliar

Senin, 27 April 2026 - 12:54 WIB

Pemkab Bangkalan Libatkan Kader Posyandu untuk Validasi Data Penerima Program Makan Bergizi Gratis

Minggu, 26 April 2026 - 14:53 WIB

539 Jamaah Calon Haji Asal Magetan Diberangkatkan, Suasana Haru Iringi Pelepasan di GOR Ki Mageti

Rabu, 15 April 2026 - 05:08 WIB

Kekosongan Kepala Sekolah di Ponorogo, Ratusan Guru Ditunjuk Isi Jabatan

Berita Terbaru