Jakarta, Lumineerdaily — Pemerintah Indonesia bersiap menorehkan sejarah baru dalam diplomasi kebahasaan internasional. Melalui kerja sama antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Indonesia akan segera meresmikan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia pada November 2025 mendatang.
Peresmian tersebut dijadwalkan akan dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebagai wujud dukungan pemerintah terhadap perluasan peran bahasa Indonesia di kancah global.
Langkah ini menandai peningkatan status pembelajaran bahasa Indonesia di Al-Azhar – dari sebelumnya hanya berupa kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi program studi resmi di Fakultas Bahasa dan Terjemah universitas tersebut.
Kehadiran program studi ini dinilai menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi global, sekaligus mempererat hubungan diplomatik Indonesia dan Mesir yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Kementerian Pendidikan menilai, pendirian program studi tersebut merupakan bentuk pengakuan dunia akademik internasional terhadap kontribusi Indonesia di bidang pendidikan, budaya, dan bahasa.
“Ini adalah momentum bersejarah. Bahasa Indonesia kini tidak hanya diajarkan, tetapi juga dikaji secara ilmiah di salah satu universitas tertua dan paling berpengaruh di dunia Islam,” ujar seorang pejabat di lingkungan Kemendikdasmen, Senin (27/10/2025).
Upaya memperkenalkan bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar telah dimulai sejak hampir satu dekade lalu melalui program BIPA yang diinisiasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan KBRI Kairo.
Antusiasme tinggi dari mahasiswa Mesir mendorong peningkatan status pengajaran menjadi bahasa pilihan kedua pada 2019, sebelum akhirnya mendapat persetujuan resmi menjadi program studi penuh pada 2025.
Data dari KBRI Kairo menunjukkan, jumlah mahasiswa yang mempelajari bahasa Indonesia meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir, mencerminkan besarnya minat terhadap kebudayaan dan bahasa Nusantara.
Pemerintah Indonesia menyambut positif langkah Al-Azhar yang memberikan ruang akademik bagi bahasa Indonesia. Selain memperluas jejaring pendidikan, langkah ini juga memperkuat soft power Indonesia di kawasan Timur Tengah.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Abdul Muta’ali, disebut sebagai salah satu tokoh penting di balik lahirnya kerja sama ini. Melalui diplomasi pendidikan yang intens, ia berhasil menjembatani sinergi antara pihak Al-Azhar dan pemerintah Indonesia.
“Pendirian program studi ini adalah bentuk penghargaan terhadap kekayaan bahasa Indonesia. Kami berharap dapat melahirkan generasi muda Mesir yang menjadi jembatan hubungan budaya antara kedua negara,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Pemerintah menargetkan agar keberhasilan di Al-Azhar menjadi model bagi pengembangan studi bahasa Indonesia di berbagai negara.
Melalui jaringan BIPA dan kerja sama antaruniversitas, Kemendikdasmen berharap bahasa Indonesia dapat sejajar dengan bahasa besar dunia lain dalam ranah pendidikan, diplomasi, dan penelitian kebudayaan.
Dengan rencana peresmian yang akan dilakukan pada November 2025, Indonesia menegaskan komitmennya menjadikan bahasa nasional bukan sekadar simbol identitas, tetapi juga alat diplomasi global yang berdaya saing dan berpengaruh.







