TRENGGALEK, Lumineerdaily.com – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menghadiri pengajian akbar yang menghadirkan KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq di Desa Bendoroto, Kecamatan Munjungan, Senin malam (11/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Desa Bendoroto. Masyarakat memanfaatkan momentum tersebut bukan hanya untuk memperingati perjalanan desa, tetapi juga menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di hadapan warga, Gus Muwafiq mengajak masyarakat melihat kemerdekaan dari sisi yang lebih jauh. Menurutnya, kehidupan yang dinikmati masyarakat saat ini tidak terlepas dari perjalanan panjang dan pengorbanan generasi sebelumnya.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat masa kini berada dalam posisi yang berbeda dengan para pendahulu yang berjuang merebut kemerdekaan. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan mempertaruhkan harta hingga nyawa, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengisi hasil perjuangan tersebut.
“Pengorbanan generasi sekarang tidak sebanding dengan para pendahulu yang berjuang merebut kemerdekaan. Tugas kita saat ini bukan berperang, tetapi mengisi kemerdekaan,” ujar Gus Muwafiq.
Menurutnya, kesadaran mengenai jasa pendahulu juga perlu dibangun dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga. Ia mencontohkan hubungan antara anak dan orang tua.
Seorang anak, kata Gus Muwafiq, sering kali baru menyadari besarnya pengorbanan orang tua setelah mereka tidak lagi ada. Orang tua selama hidupnya dapat melakukan berbagai pengorbanan demi anak, termasuk mengorbankan harta maupun kepentingan pribadi.
Karena itu, mengenang orang tua maupun leluhur bukan sekadar tradisi. Ada nilai yang perlu dipahami oleh generasi setelahnya mengenai bagaimana kehidupan yang mereka jalani hari ini terbentuk dari perjuangan orang-orang sebelumnya.
Pesan yang sama kemudian ia kaitkan dengan kemerdekaan Indonesia.
Gus Muwafiq meminta masyarakat tidak kehilangan rasa hormat terhadap simbol-simbol kebangsaan. Salah satunya melalui pemasangan bendera Merah Putih menjelang peringatan HUT Kemerdekaan.
Ia menyayangkan masih ada masyarakat yang memilih tidak memasang bendera pada momentum tersebut. Baginya, Merah Putih merupakan identitas bangsa yang memiliki sejarah panjang dan diperoleh melalui perjuangan.
“Bendera adalah sebuah identitas yang harus kita hargai dan junjung tinggi,” katanya.
Ia bahkan mengusulkan adanya sanksi tegas bagi warga yang sengaja tidak mengibarkan bendera saat peringatan kemerdekaan.
Selain soal bendera, Gus Muwafiq juga mendorong agar berbagai kegiatan masyarakat dalam menyambut kemerdekaan tetap dipertahankan. Karnaval, kegiatan kampung dan acara lain yang melibatkan warga dinilai memiliki fungsi lebih jauh daripada sekadar hiburan.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air sekaligus mengenalkan nilai perjuangan kepada generasi muda.
Sementara itu, kehadiran Bupati Mochamad Nur Arifin dalam pengajian tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat Desa Bendoroto dalam memperingati hari jadinya yang ke-116.
Peringatan ulang tahun desa menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Bendoroto sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Bagi generasi muda, pesan yang disampaikan dalam pengajian tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang hadir tanpa pengorbanan.
Kemerdekaan yang telah diwariskan para pendahulu kini berada di tangan generasi yang berbeda. Tantangannya pun berubah. Tidak lagi menghadapi medan perang, tetapi bagaimana mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, pekerjaan, pembangunan, menjaga persatuan dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dari Desa Bendoroto, peringatan HUT ke-116 desa akhirnya bertemu dengan pesan yang lebih luas menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI: menghargai perjuangan masa lalu sekaligus membuktikan bahwa generasi hari ini mampu menjaga apa yang telah diperjuangkan pendahulunya.
(gUn)













