Lumineerdaily.com, Trenggalek – Layanan transportasi khusus pelajar di Trenggalek hingga pertengahan April 2026 masih belum beroperasi. Kondisi ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya sudah berjalan sejak awal tahun ajaran.
Pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan Trenggalek memilih menahan operasional sementara. Alasannya, mereka ingin mengubah pola layanan agar lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Kepala Bidang Angkutan Dishub, Budi Supriyanto, menjelaskan bahwa tahun ini pendekatan yang digunakan tidak lagi sama seperti sebelumnya.
“Untuk sementara layanan belum dijalankan. Kami akan mulai dengan survei dulu, supaya tahu kebutuhan sebenarnya,” ujarnya.
Langkah ini diambil agar armada yang disiapkan tidak mubazir dan benar-benar digunakan oleh pelajar yang membutuhkan. Selama ini, rute dan jumlah kendaraan kerap ditentukan berdasarkan pola lama tanpa pembaruan data.
Dengan survei tersebut, Dishub akan memetakan jalur mana yang paling padat, serta wilayah mana yang masih kekurangan layanan transportasi pelajar.
“Kalau sudah ada data, baru kita tentukan rute dan jumlah kendaraan. Jadi lebih tepat sasaran,” katanya.
Meski belum berjalan, pemerintah memastikan layanan ini tetap menjadi program prioritas. Nantinya, seluruh wilayah akan tetap terlayani, termasuk daerah yang jauh dari pusat kota.
Dari sisi kesiapan, Dishub telah menyiapkan puluhan armada. Terdiri dari kendaraan milik pemerintah daerah serta angkutan umum yang disewa khusus untuk layanan pelajar.
Total armada yang disiapkan mencapai 40 unit, dengan rincian 4 kendaraan dinas dan sisanya armada sewa. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini juga tidak kecil, mencapai sekitar Rp1,3 miliar.
Dalam kondisi normal, layanan ini mampu mengangkut ratusan pelajar setiap hari. Jumlahnya bisa mencapai 800 siswa, tergantung kebutuhan dan pola perjalanan.
Beberapa wilayah dengan tingkat kebutuhan tertinggi selama ini berada di kawasan Trenggalek kota, Munjungan, dan Panggul. Jalur-jalur tersebut dikenal memiliki jarak tempuh cukup jauh dan akses transportasi yang terbatas.
Perubahan skema ini diharapkan bisa memperbaiki kualitas layanan. Tidak hanya soal jumlah armada, tetapi juga ketepatan rute dan efisiensi penggunaan anggaran.
Namun di sisi lain, keterlambatan operasional ini juga menjadi perhatian. Sebab, selama layanan belum berjalan, sebagian pelajar harus mencari alternatif transportasi sendiri.
Pemerintah daerah menargetkan survei segera dilakukan dalam waktu dekat. Setelah itu, layanan angkutan pelajar akan kembali dioperasikan dengan sistem baru.
Kini, banyak pihak menunggu realisasi di lapangan. Apakah perubahan ini benar-benar membuat layanan lebih efektif, atau justru memperlambat akses pelajar, akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.
(gun)













