Lumineerdaily.com, Trenggalek – Target pendapatan sektor pariwisata Kabupaten Trenggalek tahun ini berada di ujung tanduk. Hingga awal Desember 2025, realisasi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor wisata belum mencapai dua pertiga dari target yang ditetapkan.
Kondisi tersebut menuai sorotan Komisi II DPRD Trenggalek. Ketua Komisi II, Mugianto, menilai perlambatan pendapatan tidak bisa dibiarkan tanpa evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).
“Harus ada kajian yang jelas. Penurunan jumlah wisatawan itu penyebabnya apa, supaya bisa dijadikan dasar evaluasi,” kata Mugianto, Rabu, 10 Desember 2025.
Menurut dia, turunnya PAD pariwisata tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan faktor eksternal seperti cuaca atau kondisi ekonomi. Ia menilai persoalan bisa berasal dari pengelolaan destinasi itu sendiri, mulai dari perawatan kawasan hingga aksesibilitas menuju lokasi wisata.
“Kalau fasilitas tidak terawat dan aksesnya kurang diperhatikan, wajar kalau pengunjung menurun. Itu harus dilihat secara jujur,” ujarnya.
Mugianto juga mengingatkan potensi kebocoran pendapatan yang dinilai perlu mendapat pengawasan serius. Ia menegaskan peran Inspektorat dan aparatur sipil negara dalam memastikan pengelolaan PAD berjalan transparan dan akuntabel.
“Kebocoran itu harus diawasi. Jangan sampai pendapatan ada, tapi tidak masuk ke kas daerah,” tegasnya.
Ia mengakui faktor cuaca, munculnya destinasi baru di daerah lain, serta melemahnya daya beli masyarakat memang berpengaruh terhadap kunjungan wisata. Namun, faktor-faktor tersebut dinilainya bukan satu-satunya penyebab.
“Jangan menjadikan itu alasan mutlak. Semua faktor harus dibedah satu per satu,” kata dia.
Sebagai langkah pengendalian, DPRD mendorong Disparbud untuk lebih aktif melakukan pemantauan lapangan. Evaluasi langsung di destinasi wisata dinilai penting untuk mengetahui persoalan riil yang dihadapi, termasuk kondisi fasilitas penunjang.
“Dinas harus sering turun ke lapangan, mengecek, mengontrol. Jangan hanya menunggu laporan,” ujarnya.
Hingga awal Desember, realisasi PAD sektor pariwisata Trenggalek baru berkisar 60 persen dari target Rp 9 miliar. Peluang untuk mengejar target penuh di sisa waktu tahun anggaran dinilai semakin sempit.
Pelaksana Tugas Kepala Disparbud Trenggalek, Edi Santoso, mengakui sektor pariwisata tahun ini mengalami tekanan cukup berat. Ia menyebut tren penurunan juga terjadi di sejumlah daerah lain.
“Beberapa daerah mengalami penurunan cukup dalam, ada yang sampai 20 hingga 30 persen. Daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi masih sangat berpengaruh,” ujarnya.
Meski demikian, DPRD menegaskan pemerintah daerah tidak boleh bersikap pasrah. Evaluasi dan pembenahan dinilai mendesak agar sektor pariwisata tidak terus menjadi titik lemah pendapatan daerah.
“Jangan sekadar menerima kondisi. Harus dicari akar masalahnya,” kata Mugianto.
(GN).







