Trenggalek, lumineerdaily.com – Suasana berbeda terlihat di Kabupaten Trenggalek pada akhir pekan lalu. Ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga sanggar seni tampil bersama dalam pertunjukan tari kolosal jaranan Turonggo Yakso yang digelar oleh STKIP PGRI Trenggalek.
Kegiatan ini digelar untuk menyambut Hari Tari Nasional dan Hari Tari Dunia yang diperingati setiap 29 April. Namun, lebih dari sekadar agenda tahunan, pertunjukan tersebut juga menjadi ruang berkumpul bagi pelaku seni dari berbagai wilayah di Trenggalek.
Ketua STKIP PGRI Trenggalek, Dwi Kuncorowati, mengatakan pertunjukan ini melibatkan peserta dari berbagai sekolah dan sanggar seni di seluruh kabupaten.
“Gelar tari kolosal jaranan Turonggo Yakso ini melibatkan pelajar, mahasiswa, dan sanggar seni dari berbagai kecamatan di Trenggalek,” ujarnya.
Sekitar 20 sanggar seni dan sekolah ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Peserta datang dari sejumlah wilayah, mulai Kecamatan Tugu hingga Panggul, dengan total keterlibatan mencapai sekitar 120 hingga 150 orang.
Turonggo Yakso Jadi Identitas Budaya Lokal
Turonggo Yakso dikenal sebagai salah satu kesenian khas Trenggalek yang memiliki ciri visual kuat, terutama pada bentuk kuda kepang dan karakter topeng yang berbeda dari daerah lain.
Dalam pertunjukan kolosal ini, unsur gerak, musik, dan ekspresi ditampilkan secara serempak, menghadirkan nuansa yang kuat sekaligus atraktif bagi penonton.
Menurut Dwi, seni tari bukan hanya soal gerakan, tetapi juga media ekspresi dan kebersamaan. Ia menyebut tari memiliki tiga unsur utama, yakni wiraga, wirama, dan wirasa yang saling melengkapi.
“Tari adalah bentuk ekspresi diri. Di dalamnya ada keselarasan gerak tubuh, irama, dan penghayatan,” katanya.
Ruang Regenerasi Seni Tradisional
Keterlibatan pelajar dan mahasiswa dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan seni tradisional. Kehadiran generasi muda dalam kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa kesenian daerah masih memiliki ruang di tengah perkembangan budaya populer.
Selain tampil, peserta juga mendapat pengalaman langsung dalam kerja kolaboratif lintas sekolah dan komunitas seni.
Bagi penyelenggara, kegiatan ini menjadi cara sederhana namun nyata untuk memastikan budaya lokal tetap hidup dan tidak berhenti pada generasi tertentu.
Turonggo Yakso sendiri selama ini menjadi salah satu ikon budaya Trenggalek yang kerap tampil dalam berbagai agenda daerah, mulai festival hingga penyambutan tamu.
Melalui pertunjukan kolosal ini, seni tradisional tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga dirawat bersama sebagai bagian dari identitas daerah yang terus diwariskan.
(gun)













