Trenggalek, Lumineerdaily – Kabupaten Trenggalek sepanjang Januari–November 2025 mencatat 183 bencana alam, data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan. Tanah longsor menjadi yang terbanyak dengan 103 kejadian, diikuti banjir 45 kali, cuaca ekstrem 33 kali, dan gelombang pasang dua kali.
Salah satu insiden paling serius terjadi pada 1 November 2025 di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, ketika longsor menimpa sebuah keluarga. Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa risiko bencana di Trenggalek tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga berpotensi menelan korban jiwa.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menyebut curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang labil menjadi penyebab utama meningkatnya bencana. “Fenomena hidrometeorologi basah memicu banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga pohon tumbang,” kata Stefanus.
Beberapa titik banjir tercatat di Desa Sumberdadi dan Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek; Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan; serta Desa Dermosari, Kecamatan Tugu. Luapan Sungai Tawing dan Ngasinan, serta kapasitas sungai irigasi yang tidak memadai, menjadi faktor yang memperparah genangan air.
Analisis data BPBD menunjukkan tren bencana alam menurun dibanding 2024, yang mencatat 580 kejadian. Namun, jumlah kasus longsor tetap tinggi, menandakan daerah ini masih rentan terhadap fenomena hidrometeorologi ekstrim dan pergeseran tanah.
Ahli mitigasi bencana dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rini Kurniawati, menekankan pentingnya langkah proaktif: “Penurunan jumlah kejadian bukan berarti aman. Pendekatan mitigasi berbasis komunitas dan perbaikan infrastruktur sungai sangat krusial untuk menekan risiko.”
Meski pemerintah daerah telah melakukan sosialisasi dan evakuasi dini, tantangan masih besar. Banyak desa rawan bencana berada di area perbukitan dan aliran sungai, sehingga potensi longsor dan banjir sulit dihindari tanpa perbaikan tata kelola lahan dan sistem peringatan dini yang lebih canggih.
Trenggalek kini menghadapi ujian ganda: menekan risiko bencana fisik sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi. Data dan pengalaman tahun 2025 menjadi peringatan keras bahwa kesiapsiagaan bencana bukan sekadar angka, melainkan soal nyawa dan keselamatan warga.







