KEDIRI – Sebuah patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak menjelma menjadi magnet perhatian publik. Bukan karena kemegahan atau nilai artistik tinggi, melainkan karena tampilannya yang unik dan mengundang beragam respons di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ruang digital mampu mengubah objek lokal menjadi perbincangan nasional. Dalam hitungan hari, patung yang awalnya hanya berfungsi sebagai ikon desa itu ramai dibagikan di berbagai platform, memicu rasa penasaran warganet untuk datang langsung ke lokasi.
Arus kunjungan pun tak terelakkan. Warga dari sejumlah daerah di Jawa Timur hingga luar kota Kediri berdatangan untuk melihat dan mengabadikan momen bersama patung tersebut. Salah satunya Feracrus, pengunjung asal Surabaya, yang rela menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan sepeda motor demi menyaksikan langsung ikon desa yang viral di jagat maya.
Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menyebut viralnya patung Macan Putih menjadi pengalaman baru bagi desanya. Ia menjelaskan, patung tersebut dibangun sebagai simbol kearifan lokal yang berakar dari cerita turun-temurun masyarakat.
“Macan Putih dalam kepercayaan warga kami dikenal sebagai penjaga desa atau danyang. Itu sebabnya dipilih sebagai ikon Balongjeruk,” kata Safi’i.
Ia menegaskan pembangunan patung tersebut tidak menggunakan dana desa. Seluruh pembiayaan berasal dari dana pribadi, dengan total anggaran sekitar Rp3,5 juta untuk jasa pembuatan dan material.
Menariknya, meski menuai komentar beragam di media sosial mulai dari pujian hingga kritik pemerintah desa memilih bersikap terbuka. Safi’i menilai respons publik justru menjadi cermin evaluasi sekaligus peluang pengembangan ke depan.
“Viral ini kami anggap sebagai masukan. Nanti akan ada perbaikan agar patung lebih aman dan lebih layak sebagai ikon desa,” ujarnya.
Lebih dari sekadar objek foto, fenomena ini membuka diskusi baru soal potensi desa di era digital. Kehadiran pengunjung secara spontan mulai menggerakkan aktivitas warga, meski pemanfaatan ekonomi seperti UMKM dan fasilitas penunjang belum tertata maksimal.

Ke depan, Pemerintah Desa Balongjeruk berencana melakukan penataan kawasan patung agar lebih representatif dan aman, sekaligus mengarahkannya menjadi titik wisata desa berbasis budaya lokal.
Viralnya patung Macan Putih Balongjeruk menjadi contoh bagaimana identitas lokal, ketika bertemu dengan kekuatan media sosial, dapat menciptakan peluang baru bagi desa asal dikelola dengan bijak dan berkelanjutan.
(gn/bd).







