Tradisi Methik Pari di Glinggang Ponorogo Jadi Wujud Syukur Petani Jelang Panen

- Pewarta

Sabtu, 2 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Petani di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Ponorogo mengikuti tradisi Methik Pari sebagai ungkapan syukur menjelang panen. Kegiatan ini juga dihadiri Plt Bupati Ponorogo dan pejabat Provinsi Jawa Timur, serta menjadi simbol pelestarian budaya dan harapan peningkatan hasil pertanian.

Foto: Petani di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Ponorogo mengikuti tradisi Methik Pari sebagai ungkapan syukur menjelang panen. Kegiatan ini juga dihadiri Plt Bupati Ponorogo dan pejabat Provinsi Jawa Timur, serta menjadi simbol pelestarian budaya dan harapan peningkatan hasil pertanian.

PONOROGO, lumineerdaily.com – Di tengah hamparan sawah yang mulai menguning, suasana hangat terasa di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung. Ratusan petani tampak berbondong-bondong menuju area persawahan untuk mengikuti tradisi “Methik Pari kangge nguwatake boga Gumregah ngupaya mulyaning di kawula” pada Kamis pagi (30/4/2026).

Wajah-wajah bahagia para petani menjadi pemandangan utama dalam kegiatan yang telah berlangsung turun-temurun tersebut. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga momentum kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.

Acara budaya itu turut dihadiri Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Heru Suseno, Wakil Ketua DPRD Ponorogo Evy Dwitasari, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.

Prosesi diawali dari balai desa, di mana para tokoh masyarakat berjalan beriringan menuju persawahan. Dua penari laki-laki dan perempuan memimpin iring-iringan tersebut, disusul arak-arakan sekitar 300 tumpeng dan ingkung yang menjadi simbol doa dan harapan.

Tokoh masyarakat Desa Glinggang, Riyanto, menjelaskan bahwa tradisi ini menjadi ungkapan syukur petani menjelang masa panen. Kegiatan yang telah memasuki pelaksanaan ke-10 itu juga menjadi bukti kuatnya nilai kebersamaan di tengah masyarakat desa.

“Karena itu sebagai wujud rasa syukur, 300 tumpeng dan ingkung kami arak dan kemudian dimakan bersama,” ujarnya.

Selain sebagai ungkapan syukur, tradisi ini juga menjadi ruang harapan bagi para petani. Mereka berharap hasil panen tahun ini meningkat dan tanaman padi di musim berikutnya terhindar dari hama maupun penyakit. Dalam rangkaian acara juga ditampilkan simbol budaya yang dikaitkan dengan kepercayaan lokal tentang Dewi Sri sebagai lambang kesuburan.

Di sisi lain, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita memberikan apresiasi atas kekompakan warga Glinggang dalam menjaga tradisi tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki potensi sebagai bagian dari pengembangan wisata daerah.

“Tradisi Pethik Pari bukan hanya bagian dari kegiatan petani, tetapi juga bagian dari pengembangan pariwisata di Ponorogo,” kata Lisdyarita.

Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi di sektor pertanian. Menurutnya, kombinasi antara pelestarian budaya dan penerapan teknologi modern menjadi kunci agar generasi muda, termasuk Gen Z, mau terlibat dalam dunia pertanian.

Pemerintah, lanjutnya, telah mendorong pemanfaatan teknologi pertanian mulai dari proses tanam hingga panen. Kehadiran alat mesin pertanian dinilai mampu membantu efisiensi kerja petani sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.

Dengan perpaduan antara tradisi, kebersamaan, dan modernisasi, Desa Glinggang menunjukkan bahwa sektor pertanian bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.

(man)

Berita Terkait

51 Biksu Jalan Kaki Lintas Negara Akan Singgah di Nganjuk, Bawa Pesan Perdamaian Menuju Waisak 2026
Ponorogo Tunda Rekrutmen ASN hingga 2027, Fokus Tekan Belanja Pegawai
Jawa Timur Target Pertahankan Produksi Gabah 10,4 Juta Ton, Ponorogo Jadi Salah Satu Penopang Utama
Bea Cukai Pasuruan Musnahkan Jutaan Rokok Ilegal, Nilai Barang Capai Rp6,39 Miliar
Pemkab Bangkalan Libatkan Kader Posyandu untuk Validasi Data Penerima Program Makan Bergizi Gratis
539 Jamaah Calon Haji Asal Magetan Diberangkatkan, Suasana Haru Iringi Pelepasan di GOR Ki Mageti
Kekosongan Kepala Sekolah di Ponorogo, Ratusan Guru Ditunjuk Isi Jabatan
Sinyal Politik Menguat di Jatim, PDIP dan NU Disebut Makin Menyatu Jelang Tahun Politik
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 18:43 WIB

51 Biksu Jalan Kaki Lintas Negara Akan Singgah di Nganjuk, Bawa Pesan Perdamaian Menuju Waisak 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 00:37 WIB

Ponorogo Tunda Rekrutmen ASN hingga 2027, Fokus Tekan Belanja Pegawai

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:28 WIB

Tradisi Methik Pari di Glinggang Ponorogo Jadi Wujud Syukur Petani Jelang Panen

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:18 WIB

Jawa Timur Target Pertahankan Produksi Gabah 10,4 Juta Ton, Ponorogo Jadi Salah Satu Penopang Utama

Senin, 27 April 2026 - 19:24 WIB

Bea Cukai Pasuruan Musnahkan Jutaan Rokok Ilegal, Nilai Barang Capai Rp6,39 Miliar

Senin, 27 April 2026 - 12:54 WIB

Pemkab Bangkalan Libatkan Kader Posyandu untuk Validasi Data Penerima Program Makan Bergizi Gratis

Minggu, 26 April 2026 - 14:53 WIB

539 Jamaah Calon Haji Asal Magetan Diberangkatkan, Suasana Haru Iringi Pelepasan di GOR Ki Mageti

Rabu, 15 April 2026 - 05:08 WIB

Kekosongan Kepala Sekolah di Ponorogo, Ratusan Guru Ditunjuk Isi Jabatan

Berita Terbaru

Foto: Raker Komisi IV DPRD Trenggalek dan manajemen RSUD Dr. Soedomo, Rabu (20/5/2026).

Trenggalek

DPRD Trenggalek Kritik Pelayanan RSUD dan Aturan BPJS

Rabu, 20 Mei 2026 - 20:00 WIB