TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS melalui peningkatan skrining, pengobatan antiretroviral (ARV), serta pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Langkah tersebut dilakukan untuk menekan penularan sekaligus meningkatkan kualitas hidup penyintas HIV di daerah tersebut.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tulungagung, jumlah kasus HIV/AIDS yang berhasil terdeteksi selama sekitar dua dekade terakhir mencapai 4.498 kasus. Angka itu merupakan akumulasi kasus yang ditemukan sejak HIV/AIDS pertama kali teridentifikasi di Tulungagung sekitar 20 tahun lalu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, dr Aries Setiawan, mengatakan peningkatan jumlah temuan kasus dari tahun ke tahun menunjukkan semakin luasnya jangkauan layanan deteksi dini yang dilakukan pemerintah bersama fasilitas kesehatan.
“Kasus HIV/AIDS yang telah terjaring di Tulungagung selama 20 tahun terakhir mencapai 4.498 kasus,” ujarnya, Senin.
Deteksi Dini Meningkat
Data Dinkes menunjukkan tren penemuan kasus HIV/AIDS cenderung meningkat setiap tahun. Jumlah temuan tertinggi terjadi pada 2018 dengan 392 kasus baru.
Sementara itu, pada triwulan pertama 2026, petugas kesehatan telah menemukan 90 kasus baru melalui berbagai layanan skrining dan pemeriksaan kesehatan.
Meningkatnya jumlah kasus yang terdeteksi tidak selalu menunjukkan peningkatan penularan semata, tetapi juga menggambarkan semakin banyak masyarakat yang mengakses layanan pemeriksaan sehingga status kesehatan mereka dapat diketahui lebih awal.

Deteksi dini menjadi salah satu kunci penting dalam pengendalian HIV/AIDS karena memungkinkan pasien segera mendapatkan terapi dan pendampingan sebelum kondisi kesehatannya memburuk.
Tantangan Kepatuhan Pengobatan
Selain fokus pada penemuan kasus baru, Dinas Kesehatan juga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan pengobatan ODHA.
Selama periode 2006 hingga 2026, tercatat 1.298 ODHA meninggal dunia. Di sisi lain, terdapat 1.448 ODHA yang menghentikan pengobatan ARV dengan berbagai alasan, mulai dari faktor psikologis, sosial, ekonomi hingga mobilitas pasien.
Padahal, terapi ARV yang dijalani secara rutin terbukti mampu menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga memperpanjang harapan hidup pasien dan mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Karena itu, Dinkes bersama jejaring layanan kesehatan dan pendamping terus mengupayakan agar ODHA yang sempat putus pengobatan dapat kembali mengakses layanan kesehatan.
“Kami terus berupaya merealisasikan target eliminasi HIV/AIDS sekaligus menekan angka penularan melalui skrining, pengobatan ARV, dan pendampingan ODHA,” kata Aries.
Perhatian pada Penularan dari Orang Tua ke Anak
Dinas Kesehatan juga tengah melakukan pemantauan terhadap seorang anak yang hidup dengan HIV akibat penularan dari orang tuanya. Kasus tersebut baru diketahui setelah anak memasuki usia anak-anak.
Menurut Aries, pendampingan terhadap anak dan keluarganya terus dilakukan guna memastikan akses pengobatan serta kondisi kesehatannya tetap terjaga.
Kasus tersebut menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan HIV sejak dini, terutama bagi ibu hamil dan kelompok berisiko, untuk mencegah penularan dari orang tua kepada anak.
Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Selain layanan medis, peningkatan edukasi masyarakat masih menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian HIV/AIDS. Stigma terhadap ODHA kerap menjadi hambatan bagi seseorang untuk memeriksakan diri maupun melanjutkan pengobatan.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung berharap semakin banyak warga yang memanfaatkan layanan skrining HIV yang tersedia di fasilitas kesehatan. Dengan deteksi lebih awal, pasien dapat segera memperoleh terapi yang tepat dan menjalani kehidupan yang lebih produktif.
Upaya deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, serta dukungan sosial yang kuat dinilai menjadi fondasi utama dalam mencapai target pengendalian HIV/AIDS sekaligus meningkatkan kualitas hidup para penyintas di Kabupaten Tulungagung. (gun)













