Warga Tulungagung Meninggal akibat Leptospirosis, Dinkes Minta Masyarakat Waspada Kotoran Tikus

- Pewarta

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dinas Kesehatan Tulungagung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis setelah ditemukan 11 kasus positif dan satu pasien meninggal dunia.

Dinas Kesehatan Tulungagung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis setelah ditemukan 11 kasus positif dan satu pasien meninggal dunia.

TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis setelah satu warga dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Kasus ini menjadi perhatian karena leptospirosis termasuk penyakit yang kerap muncul di wilayah dengan aktivitas pertanian tinggi dan lingkungan yang berisiko terpapar tikus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, mengatakan sejak Januari hingga Mei 2026 tercatat 13 kasus suspek leptospirosis.

Dari jumlah tersebut, 11 orang dinyatakan positif, sementara dua lainnya negatif berdasarkan hasil pemeriksaan.

“Dari 13 suspek, dua dinyatakan negatif leptospirosis. Suspek yang dinyatakan positif alhamdulillah mulai sembuh,” ujar Aris, Rabu (13/5/2026).

Meski mayoritas pasien menunjukkan perkembangan membaik, Dinkes mengonfirmasi satu pasien meninggal dunia akibat infeksi bakteri leptospira.

Foto: kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit (p2p) dinas kesehatan tulungagung, aris setiawan +7 Berdasarkan informasi terbaru per April-Mei 2026, dr. Aris Setiawan, M.Kes. menjabat sebagai Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung.

“Tahun ini ada satu pasien yang meninggal dunia akibat leptospirosis,” katanya.

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui bakteri Leptospira, umumnya berasal dari urine atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penularan bisa terjadi ketika air, tanah, atau makanan terkontaminasi lalu masuk ke tubuh melalui luka terbuka, mulut, hidung, maupun mata.

Menurut Aris, warga yang beraktivitas di sawah menjadi kelompok dengan risiko lebih tinggi.

“Vektor penyakit leptospirosis adalah tikus sawah. Apalagi di Tulungagung masih banyak masyarakat yang bekerja di area persawahan,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, Dinkes meminta warga yang bekerja di sawah maupun area berlumpur menggunakan alat pelindung diri (APD), terutama sepatu boots, sarung tangan, dan perlengkapan lain yang dapat meminimalkan kontak langsung dengan air atau tanah yang berpotensi terkontaminasi.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala awal yang kerap muncul.

Gejala leptospirosis umumnya meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga tubuh lemas. Pada kondisi lebih berat, penyakit ini dapat mengganggu fungsi hati dan ginjal.

Aris menjelaskan, salah satu tanda yang perlu diwaspadai yakni perubahan warna kekuningan pada bagian tubuh tertentu.

“Penyakit leptospirosis cenderung menyerang fungsi liver. Biasanya muncul tanda seperti kuning di area mata, tangan, atau kaki,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko.

“Kalau habis kontak dengan kotoran tikus atau bekerja di tempat yang rawan, mohon segera sampaikan ke petugas kesehatan agar bisa dilakukan deteksi dini,” katanya.

Dinkes juga menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menjaga kebersihan lingkungan rumah, menutup makanan dengan baik, serta mengendalikan populasi tikus di sekitar tempat tinggal.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa penyakit berbasis lingkungan masih menjadi tantangan kesehatan di daerah dengan aktivitas pertanian yang tinggi.

Dengan banyaknya warga Tulungagung yang beraktivitas di sawah, kewaspadaan terhadap leptospirosis dinilai perlu terus ditingkatkan agar kasus serupa tidak kembali menimbulkan korban. (gun)

Berita Terkait

Maulid Nabi, Ahmad Baharudin Ingatkan ASN Tulungagung Soal Disiplin dan Amanah
Paripurna DPRD Tulungagung, Ahmad Baharudin Sampaikan Arah APBD 2027
Jalan Selingkar Waduk Wonorejo Dipersoalkan, Siapa Sebenarnya yang Bertanggung Jawab?
Plt Bupati Baharudin Satukan Tiga Pilar dan Masyarakat Jaga Tulungagung
Baharudin Lantik Pengurus LPTQ dan Kukuhkan Dewan Hakim MTQ XXXII Tulungagung
Fiber Optik Tanpa Izin Menjamur, Sejauh Mana Penertiban Pemkab Tulungagung?
Perkuat Perlindungan Sosial, DPRD Tulungagung Bahas Ranperda Bersama Lembaga dan Tokoh Masyarakat
Bupati Baharudin Ajak Tiga Pilar dan Elemen Masyarakat Jaga Kondusivitas Tulungagung

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:09 WIB

Maulid Nabi, Ahmad Baharudin Ingatkan ASN Tulungagung Soal Disiplin dan Amanah

Kamis, 10 September 2026 - 00:09 WIB

Paripurna DPRD Tulungagung, Ahmad Baharudin Sampaikan Arah APBD 2027

Senin, 7 September 2026 - 18:54 WIB

Jalan Selingkar Waduk Wonorejo Dipersoalkan, Siapa Sebenarnya yang Bertanggung Jawab?

Senin, 7 September 2026 - 17:58 WIB

Plt Bupati Baharudin Satukan Tiga Pilar dan Masyarakat Jaga Tulungagung

Jumat, 4 September 2026 - 17:49 WIB

Baharudin Lantik Pengurus LPTQ dan Kukuhkan Dewan Hakim MTQ XXXII Tulungagung

Jumat, 4 September 2026 - 14:01 WIB

Fiber Optik Tanpa Izin Menjamur, Sejauh Mana Penertiban Pemkab Tulungagung?

Jumat, 4 September 2026 - 12:34 WIB

Perkuat Perlindungan Sosial, DPRD Tulungagung Bahas Ranperda Bersama Lembaga dan Tokoh Masyarakat

Kamis, 3 September 2026 - 14:53 WIB

Bupati Baharudin Ajak Tiga Pilar dan Elemen Masyarakat Jaga Kondusivitas Tulungagung

Berita Terbaru