TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Regenerasi pemain menjadi salah satu kunci penting dalam membangun prestasi sepak bola daerah. Kesadaran itu mendorong Kabupaten Tulungagung terus memperkuat pembinaan atlet sejak usia dini melalui berbagai kompetisi yang memberi ruang bagi talenta muda untuk berkembang.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Grassroots Piala Presiden 2026 yang digelar di Lapangan Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Rabu (24/6/2026). Ajang ini menjadi tempat berkumpulnya pesepak bola muda dari berbagai sekolah sepak bola dan klub di Tulungagung untuk mengasah kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding.
Pembukaan festival dilakukan oleh Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin yang juga menjabat Ketua Askab PSSI Tulungagung. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa pembinaan usia dini merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan sepak bola daerah maupun nasional.
Menurut Ahmad, pemain-pemain hebat tidak lahir secara instan. Mereka membutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan, lingkungan kompetisi yang sehat, serta dukungan dari berbagai pihak sejak usia muda.
“Kompetisi seperti ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran pemain. Mereka belajar teknik, disiplin, kerja sama tim, hingga sportivitas dalam pertandingan,” ujarnya.
Festival Grassroots Piala Presiden 2026 diikuti puluhan klub yang terbagi dalam kategori usia 10 tahun dan 12 tahun. Selama kompetisi berlangsung, para pemain muda tidak hanya berupaya meraih kemenangan, tetapi juga menunjukkan kemampuan terbaik mereka di hadapan pelatih, orang tua, dan pecinta sepak bola yang hadir.
Ahmad menilai kompetisi usia dini memiliki peran strategis dalam menemukan bibit-bibit pemain potensial. Dengan semakin banyaknya turnamen yang digelar secara terstruktur, peluang lahirnya pemain berkualitas dari daerah juga semakin terbuka.
Ia berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus berkembang dan meningkatkan kemampuan mereka.
Selain aspek prestasi, festival juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi para pemain muda. Nilai sportivitas, rasa hormat terhadap lawan, kepatuhan terhadap aturan permainan, dan kemampuan bekerja dalam tim menjadi bagian penting yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut.
Menurut Ahmad, sepak bola bukan hanya soal mencetak gol atau memenangkan pertandingan. Lebih dari itu, olahraga menjadi media pembentukan mental, disiplin, dan tanggung jawab yang akan berguna bagi anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk menikmati pertandingan dengan semangat positif serta menjadikan kompetisi sebagai sarana belajar dan menambah pengalaman.
Penyelenggaraan Festival Grassroots Piala Presiden juga menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap pembinaan sepak bola akar rumput di Tulungagung. Dukungan pemerintah daerah, Askab PSSI, pelatih, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.
Melalui pembinaan yang dimulai sejak usia dini, Tulungagung berharap dapat melahirkan generasi pemain yang tidak hanya berprestasi di tingkat daerah, tetapi juga mampu bersaing di level nasional bahkan internasional.
Festival ini pun menjadi pengingat bahwa masa depan sepak bola Indonesia dibangun dari lapangan-lapangan kecil tempat anak-anak belajar bermimpi, berlatih, dan mengembangkan kemampuan mereka sejak usia muda. (gun)















