TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Keluhan warga terkait langes atau jelaga hitam yang diduga berasal dari aktivitas Pabrik Gula (PG) Mojopanggung saat musim giling tebu kini mengarah kepada tuntutan agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan. Warga berharap persoalan yang mereka alami setiap musim giling tidak lagi dibiarkan berlarut-larut.
Menurut warga, sebaran langes tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar pabrik yang berada di Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman, tetapi juga menjangkau sejumlah desa lain saat terbawa embusan angin. Butiran hitam tersebut mengotori atap rumah, kendaraan, jemuran pakaian hingga masuk ke dalam rumah warga.
Salah seorang warga berinisial P.M mengatakan, kondisi itu sudah menjadi persoalan yang terus berulang setiap musim giling tebu. Rumah yang tidak memiliki plafon menjadi yang paling terdampak karena langes mudah masuk ke dalam ruangan.
“Tempat tidur, lantai, meja, sampai makanan ikut terkena langes. Hampir setiap hari kami membersihkannya, tetapi beberapa jam kemudian sudah kotor lagi,” katanya.
Warga mengaku tidak mempersoalkan aktivitas produksi gula yang menjadi salah satu penopang perekonomian. Namun, mereka berharap aktivitas industri juga memperhatikan dampak yang dirasakan masyarakat di sekitarnya.
Karena itu, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui dinas dan instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan, serta pihak-pihak yang berwenang, segera melakukan pengecekan di lapangan. Pemerintah diminta mengkaji penyebab munculnya langes, melakukan pengawasan terhadap sistem pengendalian emisi, serta memfasilitasi penyelesaian persoalan antara masyarakat dan pihak pabrik.
Selain penanganan jangka pendek, warga juga berharap ada solusi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim giling tebu.
“Kami ingin ada perhatian dari pemerintah. Jangan sampai keluhan warga hanya didengar setiap musim giling, tetapi tidak pernah ada penyelesaian yang nyata,” ujar seorang warga.
(GN)















