TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Warga Desa Gempolan, Kecamatan Pakel resah. Sejak Jembatan Gondang I ditutup, jalan alternatif di desa mereka setiap hari dilintasi truk-truk tonase tinggi. Padahal jalan itu tidak kuat menahan beban besar.
Keluhan warga memuncak karena getaran, kebisingan, dan kerusakan jalan mulai terasa. Jalan di Desa Gempolan merupakan jalan kelas tiga yang hanya diperuntukkan bagi kendaraan maksimal 8 ton. Jika dipaksa dilintasi truk besar, badan jalan dan utilitas warga terancam rusak.
Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishub Tulungagung, Ferdi Arif, membenarkan keresahan itu. Menurutnya, setelah 11 portal pembatas ketinggian dipasang di jalur alternatif Kecamatan Gondang, truk besar justru beralih ke Desa Gempolan.
“Setelah kami pasang 11 portal di Kecamatan Gondang, ternyata banyak truk besar beralih ke jalan alternatif di Desa Gempolan, Kecamatan Pakel,” ujar Ferdi, Minggu (20/07/2026).
Warga tidak tinggal diam. Mereka sudah bersurat ke Dishub Tulungagung meminta tambahan portal pembatas ketinggian di Desa Gempolan. Usulan itu sudah dibahas dalam rapat Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
“Di Desa Gempolan mengusulkan untuk menambah dua portal. Usulan ini akan kami sampaikan kepada kontraktor pembangunan Jembatan Gondang I sebagai penanggung jawab proyek,” jelas Ferdi.
Forum LLAJ juga menekankan agar masyarakat ikut aktif menghalau truk tonase tinggi yang nekat masuk. Sebab pemasangan portal saja dinilai belum cukup efektif menghentikan truk besar.
Warga berharap pemasangan portal tambahan segera terealisasi sebelum jalan desa semakin parah dan membahayakan pengguna jalan lain. Penutupan Jembatan Gondang I sendiri dilakukan karena proses pembangunan, sehingga arus kendaraan besar terpaksa mencari jalur alternatif lain.
(Dian)















