TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Kata “perpeloncoan” sudah tidak relevan lagi di sekolah-sekolah Tulungagung. Hari pertama masuk sekolah di seluruh SMA Negeri se-Kabupaten Tulungagung pada Selasa (14/7/2026) menjadi bukti nyata bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah kini hadir dengan wajah baru.
Tidak ada teriakan di lapangan, tidak ada atribut aneh yang memberatkan, dan tidak ada praktik senioritas yang menekan. Yang terlihat justru sambutan hangat, tawa, dan rasa ingin tahu dari ribuan peserta didik baru yang memulai langkahnya di jenjang SMA.
Tahun ajaran 2026/2027 ini, Pemerintah Kabupaten Tulungagung bersama MKKS SMA Negeri memastikan MPLS berjalan dengan konsep _MPLS Ramah_. Pembukaan kegiatan dilakukan secara daring dan dipusatkan dari SMKN 2 Singosari, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan di sekolah masing-masing.
MPLS tahun ini difokuskan sebagai masa adaptasi, bukan masa menakutkan. Selama lima hari hingga Jumat (18/7), siswa baru dikenalkan dengan guru, kakak kelas, tata tertib, fasilitas sekolah, ekstrakurikuler, serta kegiatan akademik dan nonakademik. Mereka juga diajak memahami visi, misi, budaya, dan karakter sekolah. Rangkaian kegiatannya diisi dengan sesi motivasi, games edukatif, penguatan karakter, hingga pembiasaan nilai disiplin, tanggung jawab, cinta tanah air, dan semangat belajar.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah MKKS SMA Negeri Tulungagung, Wawan Santosa, menegaskan tidak ada ruang sedikit pun untuk praktik perpeloncoan. “Instruksinya jelas dan tegas. Tidak boleh ada penekanan atau menakut-nakuti siswa. Kita ingin membangun sekolah yang nyaman sejak hari pertama. Karena itu yang kita kedepankan adalah _MPLS Ramah_. Ramah kepada anak, ramah kepada lingkungan, dan ramah kepada semua warga sekolah,” ujar Wawan.
Selama ini stigma MPLS identik dengan pembentakan dan senioritas membuat banyak siswa datang ke sekolah dengan rasa takut. Kini paradigma itu diputus. Kakak kelas hadir sebagai kakak pendamping, bukan sebagai “senior” yang menakutkan. Guru hadir sebagai pembimbing, bukan pemberi tekanan.
Dengan pendekatan humanis ini, diharapkan siswa baru lebih cepat beradaptasi dan merasa memiliki sekolahnya. Mereka datang bukan karena terpaksa, tapi karena bangga dan semangat untuk belajar. “Kalau awalnya sudah ramah, maka lima tahun ke depan anak-anak akan belajar dengan hati yang tenang. Sekolah jadi rumah kedua, bukan tempat yang menakutkan,” tambah Wawan.
Langkah Tulungagung ini sejalan dengan arahan Kemendikbudristek yang melarang segala bentuk kekerasan dalam pengenalan lingkungan sekolah. Dengan _MPLS Ramah_, SMA Negeri di Tulungagung ingin menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak butuh intimidasi. Cukup dengan keteladanan, komunikasi, dan suasana yang saling menghargai.
Untuk angkatan 2026/2027, hari pertama sekolah mereka pun dimulai bukan dengan air mata, tapi dengan senyum. (Dian)















