TULUNGAGUNG – Kekecewaan warga Lingkungan 8, Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, memuncak. Puluhan pohon pisang ditanam di badan jalan kabupaten yang rusak parah sebagai bentuk protes atas lambannya penanganan perbaikan.
Aksi itu dilakukan warga pada Minggu (15/2) tengah malam. Pohon-pohon pisang ditancapkan di sejumlah titik lubang yang menganga sepanjang lebih dari 200 meter. Sejumlah tulisan bernada kritik turut dipasang, di antaranya bertuliskan “Korban Janji” dan “Maaf perjalanan Anda terganggu, sedang ada perbaikan jalan.”
Kerusakan jalan tersebut disebut telah berlangsung lama. Lubang dengan diameter kecil hingga besar tersebar tidak merata dan semakin membahayakan saat hujan turun. Beberapa pengendara dilaporkan terjatuh akibat menghindari lubang atau kehilangan kendali.
“Sudah lama rusaknya. Pernah ditambal, tapi tidak bertahan. Sekarang kembali rusak dan lebih parah,” ujar Maryaumi, salah satu warga setempat.
Menurutnya, ruas jalan itu merupakan akses vital penghubung antarwilayah, termasuk menuju Kecamatan Sumbergempol, Boyolangu, dan Kalidawir. Aktivitas warga, distribusi barang, hingga mobilitas pelajar dan pekerja setiap hari melintasi jalur tersebut.
Warga menilai penanaman pohon pisang bukan sekadar aksi simbolik, melainkan bentuk peringatan agar pemerintah segera turun tangan sebelum korban kecelakaan kembali bertambah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tulungagung, Erwin Novianto, sebelumnya menyampaikan bahwa perbaikan jalan di wilayah Ngunut dan sejumlah titik lain direncanakan masuk program perawatan rutin mulai Maret 2026. Perbaikan akan difokuskan pada titik dengan tingkat kerusakan berat.
Beberapa ruas yang masuk rencana penanganan antara lain jalur Ngunut–Podorejo, Ngunut–Doroampel, dan Boyolangu–Sanggrahan.
Meski demikian, warga berharap realisasi tidak kembali tertunda. Bagi mereka, jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan nadi aktivitas harian yang menyangkut keselamatan dan ekonomi masyarakat.
(gun/wek).







