Kedua wilayah itu disebut sebagai habitat kunci yang memiliki peran besar dalam siklus hidup hiu paus dan sulit tergantikan oleh lokasi lain.
Namun tantangan konservasi muncul karena sebagian besar jalur migrasi hiu paus justru berada di luar kawasan perlindungan. Satwa ini bergerak melintasi Australia, Christmas Island, Timor-Leste, Guam, Indonesia, Papua Nugini, Philippines, Palau, Nauru, Mikronesia, Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, hingga kawasan laut lepas di luar yurisdiksi nasional.

Kondisi tersebut membuat perlindungan hiu paus tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dalam negeri. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong kerja sama konservasi regional di kawasan Indo-Pasifik.
Guru Besar Oseanografi dari Universitas Diponegoro, Anindya Wirasatriya, menjelaskan hiu paus memanfaatkan dinamika laut seperti jaringan transportasi alami.
“Arus laut dan produktivitas perairan mengarahkan pergerakan mereka, sementara area tertentu menjadi tempat singgah untuk mencari makan. Ini menunjukkan perlindungan harus mencakup sistem laut yang saling terhubung,” katanya.
Temuan ini juga membuka peluang mitigasi risiko yang lebih tepat. Informasi jalur migrasi dapat dimanfaatkan untuk mengurangi tangkapan sampingan, mengatur jalur kapal guna menekan risiko tabrakan, hingga merancang wisata bahari yang lebih ramah ekosistem.
Dengan temuan baru ini, konservasi hiu paus di Indonesia tidak lagi hanya bicara menjaga satu titik kemunculan satwa, tetapi juga bagaimana melindungi jalur hidupnya di lautan yang saling terhubung lintas negara.
(Yon/mile)
Halaman : 1 2













