Jakarta – Upaya peningkatan layanan konsumsi jamaah haji Indonesia memasuki fase baru dengan hadirnya inovasi teknologi pangan tanpa api. Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan sistem pemanas makanan instan yang memungkinkan sajian siap dikonsumsi hanya dengan tambahan air, tanpa membutuhkan kompor atau sumber panas eksternal.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, menyebut inovasi ini menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas layanan haji, terutama di titik-titik dengan keterbatasan fasilitas memasak.
Teknologi ini dirancang untuk menjawab tantangan distribusi dan penyajian makanan di lokasi seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang dikenal memiliki kepadatan tinggi dan keterbatasan infrastruktur dapur.
Dengan memanfaatkan reaksi bahan seperti zeolit dan kapur, makanan dapat dipanaskan secara cepat tanpa api. Metode ini dinilai lebih praktis dan minim risiko dibandingkan penggunaan peralatan konvensional di area padat jamaah.
Menurut Arif Satria, seluruh produk telah melalui uji keamanan pangan. Hal ini menjadi faktor utama dalam pengembangan teknologi, mengingat konsumsi akan dilakukan oleh jutaan jamaah dengan kondisi kesehatan yang beragam.
Selain itu, teknologi pengemasan yang digunakan, mulai dari kaleng hingga kemasan fleksibel, dirancang untuk menjaga kualitas makanan dalam jangka waktu lebih lama, sekaligus mempermudah distribusi lintas wilayah.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa inovasi ini dapat memperkuat sistem logistik pangan haji Indonesia.
Ia menekankan bahwa makanan yang diproduksi difokuskan untuk kebutuhan jamaah Indonesia dan tidak untuk distribusi komersial di Arab Saudi. Hal ini bertujuan menjaga standar kualitas serta memastikan kontrol penuh terhadap rantai pasok.
Pengembangan teknologi ini juga dipandang sebagai langkah antisipatif terhadap dinamika global, termasuk fluktuasi rantai pasok pangan. Dengan sistem yang lebih mandiri dan efisien, layanan konsumsi jamaah diharapkan tetap stabil dalam berbagai kondisi.
Kehadiran makanan instan tanpa api tidak hanya soal kemudahan, tetapi juga mencerminkan perubahan pendekatan dalam penyelenggaraan haji—dari sekadar pelayanan dasar menuju sistem yang berbasis inovasi dan efisiensi.
Dengan jumlah jamaah Indonesia yang besar setiap tahunnya, penguatan sektor konsumsi menjadi bagian penting dalam memastikan kelancaran ibadah secara keseluruhan.
Ke depan, Badan Riset dan Inovasi Nasional berencana terus mengembangkan teknologi ini, termasuk peningkatan kualitas rasa, nilai gizi, serta efisiensi produksi.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi standar baru dalam layanan konsumsi haji Indonesia, sekaligus membuka peluang penerapan di sektor lain seperti kebencanaan dan logistik darurat.
(Yon)







